Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Menuju Keseimbangan Baru

Indonesia harus siap dengan nilai tukar rupiah di atas Rp10.000 per dolar Amerika Serikat dengan imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi apabila AS mengakhiri stimulus moneternya
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 12 November 2013  |  07:39 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia harus siap dengan nilai tukar rupiah di atas Rp10.000 per dolar Amerika Serikat dengan imbal hasil obligasi pemerintah yang tinggi apabila AS mengakhiri stimulus moneternya.

Menteri Keuangan M.Chatib Basri mengatakan negara berkembang seperti Indonesia harus siap kembali ke dunia tanpa stimulus moneter (quantitative easing/QE) yang digulirkan Federal Reserve untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi setelah momen krisis keuangan 2008.

Sebelum the Fed menggulirkan kebijakan moneter tidak lazim (unconventional monetary policy) itu mulai Maret 2009, nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp11.000-Rp11.500 per dolar AS.

Adapun imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun bergerak 8%-9%. Rupiah pada perkembangannya menguat ke kisaran Rp8.000 per dolar AS dan yield SUN 10 tahun menipis menjadi 6%.

Menurutnya, tidak tertutup kemungkinan kurs rupiah dan imbal hasil SUN kembali ke posisi awal yang disebutkan sebagai titik keseimbangan baru.

“Jangan terlalu khawatir akan proses ini. Yang harus kami kerjakan adalah bagaimana meyakinkan pasar bahwa ketika kita bergerak ke ekuilibrium baru, tidak terlalu banyak shock (kejutan) di market (pasar),” katanya dalam acara Mandiri Investment Forum 2013, Senin (11/11/2013).

Akan tetapi, lanjut Chatib, Indonesia juga tidak bisa menyalahkan faktor eksternal sebagai satu-satunya penyebab turbulensi di pasar keuangan. Pasalnya, negara-negara berkembang yang terkena imbas rencana pengurang an QE umumnya negara yang memiliki problem internal.

Masalah-masalah internal itu, sambungnya, bisa berwujud defisit fiskal, defisit transaksi berjalan dan inflasi yang tak terkendali, yang akan menambah sentimen
negatif di pasar keuangan. Dalam hal ini, India, Brasil dan Indonesia memiliki masalah yang nyaris serupa.

Untuk artikel selengkapnya baca http://epaper.bisnis.com/index.php/PopPreview?IdContent=16&PageNumer=3&ID=118907

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as dolar rupiah melemah

Sumber : Bisnis Indonesia (12/11/2013)

Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top