Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Emiten Menara Telekomunikasi Bisa Turun

Emiten sektor menara berpotensi mengalami penurunan kinerja keuangan karena adanya konsolidasi operator telekomunikasi di Indonesia.
Lavinda
Lavinda - Bisnis.com 22 Oktober 2013  |  12:56 WIB
Perbaikan Menara Telekomunikasi - Antara/Joko Sulistyo
Perbaikan Menara Telekomunikasi - Antara/Joko Sulistyo

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten sektor menara berpotensi mengalami penurunan kinerja keuangan, karena adanya konsolidasi operator telekomunikasi di Indonesia.   

Dalam hasil risetnya, lembaga keuangan Morgan Stanley menurunkan target harga saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk masing-masing 19% dan 4% menjadi Rp4.800 dan Rp2.700.   

Analis Morgan Stanley Navin Killa menyampaikan pihaknya menurunkan proyeksi dari semula overweight menjadi underweight.   

“Menyusul konsolidasi operator telekomunikasi, kami menurunkan estimasi laba dan target harga perusahaan menara sekitar 10%-30%, karena itu rating untuk kedua perusahaan menjadi underweight,” ungkapnya dalam hasil riset yang diterima Bisnis, Selasa (22/10).   

Morgan Stanley menurunkan estimasi pertumbuhan EBITDA dan laba TBIG pada 2013-2014 sebesar 3,5% dan 11%.

Laba Sarana Menara diprediksi meningkat tipis karena adanya pendapatan berbasis valas dari Hutchison tetapi dengan persentase yang melambat.
    
Konsolidasi operator dan pemangkasan anggaran belanja modal oleh operator telekomunikasi dinilai menjadi penyebab utama terganggunya pendapatan penyedia infrastruktur telko.
    
Dalam waktu dekat misalnya, aksi akuisisi PT XL Axiata Tbk terhadap PT Axis Telekom Indonesia akan menghemat belanja modal dan belanja operasional perusahaan secara signifikan mencapai US$1,5 miliar-US$2 miliar, atau setara Rp16,5 triliun-Rp22 triliun. Hal ini menyiratkan nilai akuisisi senilai US$865 miliar yang cukup layak.   

“Ekspansi penambahan BTS emiten telko terbesar ketiga itu diperkirakan menurun 16% antara 2013-2014,” sebutnya.
    
Konsolidasi dan eliminasi operator kecil akan berdampak positif bagi dinamika kompetisi jangka panjang. Tidak hanya akan meningkatkan pelanggan Axis, tetapi juga akan meningkatkan akses dengan penambahan spektrum. Otomatis, itu bisa menurunkan kebutuhan menara XL sekitar 2.500-3.000 dalam jangka menengah.
    
Dalam jangka pendek, Morgan Stanley meyakini XL akan memperlambat pertumbuhan pembangunan BTS baru untuk memastikan optimalisasi peningkatan jaringan dari Axis.
    
“Pendapatan perusahaan menara merosot, sementara omzet operator tetap stabil karena kebijakan anggaran capex yang cermat di tengah memburuknya kondisi makro dan peningkatan beban modal,” urainya.
    
Tidak hanya XL, Belanja modal operator telko lain juga melambat karena persoalan makro yang meningkatkan beban modal. Hutch misalnya, melambat karena pendapatan yang belum membaik setelah perang tarif pada semester kedua 2012.
    
“Kami meyakini memburuknya kondisi makro dan meningkatnya beban modal akan memaksa operator telko mengambil langkah konservatif terhadap belanja modal tahun depan,” tuturnya.

Selain konsolidasi operator, kenaikan suku bunga acuan yang terjadi tahun ini juga menyebabkan pertumbuhan laba emiten menara berisiko.

Kenaikan suku bunga akan mengakibatkan beban bunga utang menjadi lebih tinggi. Rasio utang bersih terhadap EBITDA Tower Bersama tercatat 4,1x dan Sarana Menara sebanyak 3x sampai akhir 2013.
    






Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

xl axiata xl menara telekomunikasi menara
Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top