Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wika Berniat Perbesar Saham di Myanmar

Bisnis.com, JAKARTA— PT Wijaya Karya (Wika) Tbk berencana memperbesar porsi kepemilikan saham pada perusahaan patungan di Myanmar hingga 40% dalam 3 tahun ke depan.
Dimas Novita Sari
Dimas Novita Sari - Bisnis.com 19 Juli 2013  |  07:03 WIB
Wika Berniat Perbesar Saham di Myanmar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA— PT Wijaya Karya (Wika) Tbk berencana memperbesar porsi kepemilikan saham pada perusahaan patungan di Myanmar hingga 40% dalam 3 tahun ke depan.

Direktur Operasi Wijaya Karya Destiawan Soewardjono mengatakan saat ini perseroan baru memiliki saham sebesar 10% dengan penyertaan modal US$20 juta.

“Kami akan melakukannya secara bertahap dalam waktu tersebut hingga kepemilikan saham bisa menjadi 40%,” ujarnya, Kamis (18/7/2013).

Komposisi saham tersebut, lanjutnya, akan dibagi dua antara Wika dan PT Wika Beton, masing-masing 50%.

Dia menyampaikan peningkatan saham tersebut sangat diperlukan untuk menunjang bisnis perseroan, sejalan dengan potensi pasar baik beton dan jasa konstruksi di Myanmar.

Dengan demikian, perseroan akan menambah penyertaan modal 4 kali lipat dari modal awal untuk mendapatkan persentase saham hingga 40%. Adapun dana yang akan digunakan untuk peningkatan saham tersebut berasal dari kas internal perseroan.

USAHA PATUNGAN

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan Wijaya Karya Ganda mengatakan pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman dengan pihak Myanmar untuk membentuk perusahaan patungan.

Perseroan, lanjutnya, menggandeng perusahaan Myanmar, yakni United Mercury Group (UMG) untuk menggarap pabrik beton dan menjual jasa konstruksi. Dia menyampaikan UMG me rupakan perusahaan besar di Myanmar, sehingga sangat potensial untuk perkembangan bisnis perusahaan di negara yang dulu bernama Burma tersebut.

Pabrik beton dan jasa konstruksi tersebut, menurutnya, akan membidik pangsa pasar nasional Myanmar yang saat ini pembangunan infrastrukturnya menggeliat.

“Banyak sekali yang bisa digarap, mulai dari jembatan hingga housing,” katanya.

Pada tahap pertama pabrik beton tersebut akan mempro duksi 27.000 ton per tahun. Pembangunan pabrik tersebut akan direalisasikan tahun ini di lahan 5 ha dengan masa konstruksi 1 tahun-1,5 tahun.

Perusahaan juga optimistis, bisnis barunya tersebut akan manis karena persaingan pabrik beton dan jasa konstruksi di sana belum ketat.

Dihubungi terpisah, Sekretaris Wika Beton Puji Haryadi mengatakan pabrik tersebut direncanakan dapat berproduksi hingga 67.500 ton per tahun.

“Potensinya sangat besar, bahkan ketersediaan tanah mencapai 10 ha,” tuturnya.

HOTEL DI MAKKAH

Selain itu, perseroan juga tengah ditawari proyek hotel oleh developer swasta di sekitar Masjidil Haram, Arab Saudi.

“Kami sedang menjajaki untuk membangun tujuh tower dengan 7.000 unit kamar hotel di sana dengan nilai proyek US$170 juta per tower,” kata Destiawan.

Perseroan diajak oleh Abdul Jamil Realestate untuk mengejar pembangunan hotel di Tanah Suci tersebut. Dia menjelaskan saat ini, proyek hotel tersebut sedang dikerjakan oleh kontraktor asal Mesir yang sudah dikerjakan selama 3 tahun namun tak kunjung selesai.

“Mereka ingin segera selesai hotelnya karena permintaan sudah tinggi, jadi kami disuruh menggarap,” jelasnya.

Menurutnya, keputusan Wika untuk menggarap proyek hotel tersebut akan ditentukan setelah Lebaran. Perusahaan Arab Saudi itu juga akan mengunjungi pabrik pracetak Wika Beton dalam waktu dekat.

Puji menambahkan dalam pembangunan hotel tersebut, WIKA Beton akan menyuplai beton pracetak senilai US$20 juta. (ltc)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wijaya karya wika myanmar

Sumber : Bisnis Indonesia (19/7/2013)

Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top