Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ANALISIS IHSG: Saatnya berharap kembali ke China?

JAKARTA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor terbarunya kembali. Meski pun kondisi perekonomian dalam pekan kemarin sempat terhenti akibat adanya banjir di sejumlah titik.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 Januari 2013  |  08:45 WIB

JAKARTA: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat rekor terbarunya kembali. Meski pun kondisi perekonomian dalam pekan kemarin sempat terhenti akibat adanya banjir di sejumlah titik.

Namun, meski banjir itu mengakibatkan jalur distribusi cukup terganggu, indeks tampaknya tetap melaju tidak menoleh ke belakang hingga kembali mencatat rekor tertingginya.

Selain itu faktor teknikal jenuh jual pada pekan sebelumnya juga menjadi katalis penguatan indeks pekan lalu.

Namun ekspektasi dirilisnya laporan keuangan emiten 2012, membaiknya data ekonomi AS dan peningkatan GDP China di luar ekspektasi sejumlah analis, bahkan Pemerintah China sendiri, membuat indeks pada pekan lalu menguat 3,71% ke level 4.465,48 dibandingkan akhir penutupan pekan sebelumnya.

Penguatan ini sekaligus menjadikan indeks dengan kinerja paling baik seregional.

Data ekonomi AS, seperti yang dilaporkan oleh Ben Bernanke dalam kunjungannya ke Universtitas Michingan, memang telah menunjukan perbaikan.

Terlihat dari turunnya tingkat pengangguran AS menjadi 6,5%, tingkat pengangguran turun menjadi 7% dan sepanjang Juli-September 2012 konsumsi domestik negara itu naik 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

The Fed sendiri memperkirakan perekonomian AS akan tumbuh sekitar 2%-3,2% pada 2013 ini. Hal tersebut cukup memberikan ketenangan bagi para pelaku pasar dan memberikan bahan bakar, selain dari ekspektasi pelaku pasar akan laporan keuangan tahunan emiten, bagi penguatan indeks pekan lalu.

Hal yang cukup mengejutkan bagi pelaku pasar pada pekan lalu adalah peningkatan GDP China yang di luar ekpektasi pelaku pasar, bahkan Pemerintah China itu sendiri.

Sejak awal memang banyak yang memprediksi perekonomian China akan meningkat, namun tidak banyak yang menyangka peningkatan tersebut cukup jauh dari ekspektasi pasar.

Pasalnya, Perdana Menteri Wen Jiabao menurunkan target pertumbuhan tahunan negara itu dari 8% menjadi 7,5% pada akhir Maret 2012 dan selama dua kuartal sebelumnya menunjukan perlambatan.

Pada 2012 lalu, China mencatat pertumbuhan tahunan 7,8% dan 7,9% pada kuartal IV/2012. Dengan demikian secara rata-rata pertumbuhan ekonomi China adalah 10% dalam tiga puluh tahun terakhir.  

Kinerja spektakuler China dan membuat iri banyak negara lain yang masih berkutat dengan krisis di dukung oleh meningkatnya output industri serta penerapan kebijakan pemerintah negara itu yang selalu ditujukan untuk mendongkrak permintaan domestik karena turunnya tingkat ekspor akibat perlambatan global.

Hal ini terlihat dari tingginya investasi produksi industri pada Desember 2012 yang naik 10,3%.

Di awal pekan ini indeks masih dapat menguat dengan adanya sentimen positif dari GDP China. Jika rupiah rebound indeks akan mendapatkan amunisi baru, sebaliknya jika hal itu tidak terjadi, indeks kemungkinan besar akan kembali terkoreksi.

Apalagi dengan penguatan 3,71% pada pekan lalu, membuat indeks rawan koreksi. Dibandingkan dengan dolar AS, selama perdagangan  tahun lalu rupiah telah terdepresiasi kurang lebih sekitar 6%. (Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Indra, Analis Bisnis Indonesia Intelligence Unit

Editor : Bastanul Siregar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top