IRESS minta transparansi penjualan saham Garuda

JAKARTA: Indonesian Resources Studies (IRESS) meminta adanya transparansi penjualan saham PT Garuda Indonesia Tbk yang masih dimiliki tiga sekuritas BUMN.Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara mengatakan tertutupnya proses penjualan saham itu akan
Teguh Purwanto
Teguh Purwanto - Bisnis.com 25 April 2012  |  20:09 WIB

JAKARTA: Indonesian Resources Studies (IRESS) meminta adanya transparansi penjualan saham PT Garuda Indonesia Tbk yang masih dimiliki tiga sekuritas BUMN.Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara mengatakan tertutupnya proses penjualan saham itu akan menimbulkan kecurigaan publik, apalagi dengan adanya informasi saham BUMN aviasi itu dilepas di bawah harga pasar dan akan merugikan sekuritas BUMN.“Katanya Kementerian BUMN ingin menerapkan good corporate governance, maka mekanisme penjualan saham itu kan harus dibuka ke publik juga, harus transparan. Kalau seperti ini akan menimbulkan kecurigaan di publik, apakah ada oknum yang mengarahkan hal ini,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Dia juga menyayangkan sikap Menteri BUMN Dahlan Iskan yang seolah-olah tidak dapat berbuat apapun untuk membantu sekuritas BUMN itu.“Dengan di jual di bawah harga saham saat ini, sekuritas BUMN kan merugi. Seharusnya Pak Dahlan bisa memberikan arahan kepada sesama BUMN untuk membantu membeli saham itu, ataupun penjualan saham itu ditunda hingga harga kembali di harga perdana. Perintah dari Menteri BUMN bukan intervensi terhadap BUMN, tetapi perintah upaya menyelamatkan BUMN. Lagipula prospek bisnis Garuda Indonesia kan juga masih bagus,” jelasnya.Dengan dijual di harga Rp620 dia mengindikasikan adanya oknum yang hanya berburu keuntungan sendiri dengan cara singkat dan dapat menghasilkan keuntungan yang banyak.“Ini menunjukkan budaya dan moralitas di sana masih tidak berbeda. Sebenarnya Pak Dahlan punya hak untuk memerintahkan BUMN, tetapi mungkin tidak berdaya karena ada kekuatan dari pihak lain,” tuturnya.Berdasarkan perhitungannya, jika 10,88% saham Garuda Indonesia dilepas di harga Rp620 per saham, hal itu 17,33% di bawah harga perdananya dan berpotensi mencatatkan rugi Rp351 miliar.Ketika dimintai tanggapannya, Deputi Bidang Usaha Jasa Kementerian BUMN Parikesit Suprapto menegaskan Kementerian BUMN tidak mengarahkan tiga sekuritas BUMN serta Morgan Stanley selaku financial advisor untuk mekanisme pelepasan saham emiten berkode GIAA itu.“Kami tidak terlibat sama sekali. Arahan kami hanya untuk tiga sekuritas itu melepas saham Garuda bersama-sama agar memiliki *bargaining position yang kuat. Itu semua corporate action, dan mereka lebih ahli dalam jual beli saham, jadi kami serahkan sepenuhnya ke mereka,” ungkapnya.Dia mengatakan selain menawarkan kepada lima pengusaha yang sebelumnya di-sms oleh Dahlan, sekuritas BUMN dan *financial advisor *itu juga menawarkan ke investor lainnya. Dia juga mengatakan saat ini pihaknya meminta kepada pihak terkait untuk segera memberikan keterangan tertulis kepada publik jika sudah dilakukan penandatanganan kesepakatan penjualan dan memberikan informasi jika sudah ada kemajuan dari proses itu.“Menteri memang membantu menawarkan, tapi mereka juga menawarkan ke investor lain. Tadi [kemarin], saya juga tanya ke mereka apakah sudah ada progress atau belum, ternyata belum ada. karena kaba semakin simpang siur, setiap pihak berbeda, kami minta mereka buat press release ketika sudah ada deal dan kemajuan proses penjualan saham. sampai sekarang belum ada informasi baru, sehingga penandatanganan surat kesepakatan itu pun artinya belum ada,” jelasnya.Terkait transparansi informasi, dia mengatakan sepenuhnya diserahkan kepada pihak-pihak terkait. Dia juga mengatakan tidak berhak memaksa untuk menggunakan open tender untuk proses yang sedang dijalankan saat ini.Adapun soal kerugian yang akan diderita oleh sekuritas BUMN, tidak dapat langsung dihitung dengan harga pelepasan saham GIAA dibandingkan dengan harga saat penyerapan.“Seperti sudah dikatakan, kerugian itu tidak bisa dihitung begitu saja. Ketika mereka masih hold saham, mereka masih ada beban bunga yang harus di bayar dan berapa marked to market-nya. Lalu dilepas pun di harga berapa belum bisa dikatakan itu di bawah harga pasar, karena tergantung harga ketika mereka deal. Dan biasanya dihitung average price, bukan hargasaat deal,” tuturnya. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top