Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KURS RUPIAH: Diperkirakan melemah

JAKARTA: Rupiah diperkirakan melemah pekan depan karena penguatan dolar setelah Jumat lalu data ketenagakerjaan AS positif.

JAKARTA: Rupiah diperkirakan melemah pekan depan karena penguatan dolar setelah Jumat lalu data ketenagakerjaan AS positif.

Setelah indeks dolar menyentuh 81 karena naiknya nonfarm payroll (NFP) atau penggajian nonpertanian, yang menyumbang 80% dari pekerja AS, efeknya akan berlanjut pekan depan.

“Data AS yang positif positif Jumat malam merupakan pemicu utama untuk penguatan indeks dolar,” ujar Suluh Wicaksono, Kepala Riset Askap Futures. Dia memperkirakan indeks terdongkrak ke 82 dan berpotensi menekan rupiah.

Tekanan rupiah juga datang dari Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono yang Jumat lalu mengatakan bahwa bank sentral melihat ruang untuk mengurangi biaya pinjaman (BI rate) sejalan turunnya inflasi. Menurutnya, target inflasi BI untuk 2012 pada kisaran 3,5%--5,5% kemungkinan akan terpenuhi.

Rupiah, yang pekan ini sempat menyentuh 9.200 sebelum akhirnya menguat, kemungkinan akan bergerak pada 9.150—9.250 per dolar.

“Jika BI tidak melakukan intervensi, kemungkinan rupiah akan menembus 9.300 per dolar untuk pertama kalinya pada 2012,” kata Suluh.

Efek data ekonomi AS juga masih akan terlihat pekan depan. NFP termasuk dalam kategori indikator grade A, karena saat sebelum dan sesudah data ini dilaporkan dapat menimbulkan suatu kejutan besar terhadap mata uang AS.

Kenaikan Dolar

Menurut sebuah studi Martin DD Evans dan Richard K. Lyons yang dipublikasikan Journal of International Money and Finance (2004) pasar masih akan bereaksi hingga 4 hari kemudian terhadap data ekonomi penting.

Jika data menunjukkan kenaikan maka dolar akan menguat, sejalan dengan meningkatnya jumlah uang yang dibayarkan kepada para pekerja. Hal itu mencerminkan jumlah lapangan kerja yang tersedia bagi penduduk AS, ekonomi terbesar di dunia saat ini.

Kenaikan jumlah lapangan kerja yang tersedia, dapat diartikan stabilnya perekonomian di negara tersebut. Stabilnya perekonomian membuat nilai mata uang negara yang bersangkutan naik. Demikian juga sebaliknya.

Seperti dilaporkan Biro Statistik Tenaga Kerja AS bahwa NFP naik 200.000 pada Desember, sementara perkiraan ekonom adalah 155.000. Adapun tingkat pengangguran turun 8,5%, terbaik dalam 3 tahun terakhir, dari 8,7% pada November.

Jumlah orang yang menganggur di AS 13,1 juta dengan tingkat pengangguran telah menurun 0,6% sejak Agustus. Kenaikan terutama dari sektor transportasi dan pergudangan, perdagangan eceran, manufaktur, perawatan kesehatan, dan pertambangan. (faa)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Dara Aziliya

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper