Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor timah Indonesia terpangkas 26%

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 November 2011  |  14:37 WIB

 

JAKARTA: Pengiriman timah dari Indonesia, eksportir terbesar di dunia, diperkirakan turun 26% bulan ini ke level terendah dalam hampir 3 tahun setelah produsen sepakat untuk melarang penjualan di pasar spot untuk membalik penurunan harga.
 
Angka tengah dalam survei Bloomberg atas delapan analis dan pedagang ekspor berpotensi turun menjadi 4.000 metrik ton karena larangan tersebut.
 
Sebelum larangan dilakukan, ekspor mencapai 5.442 ton pada Oktober dan rata-rata 8.136 ton dalam sembilan bulan pertama tahun ini.
 
Jatuhnya pasokan dari Indonesia, yang menyumbang sekira 40% dari ekspor global, dapat membantu untuk mendukung harga yang jatuh 22% pada kuartal ketiga di tengah kecemasan krisis utang Eropa akan melemahkan ekonomi dunia.
 
Produsen Indonesia menghentikan ekspor sejak 1 Oktober menunggu harga naik ke US$25.000 per ton.
 
Menurut Andrian Tanuwijaya, analis Trimegah Securities, ekspor hanya akan dilakukan PT Timah karena mereka masih diperbolehkan untuk memenuhi kesepakatan kontrak sebelumnya.
PT Timah adalah eksportir terbesar Indonesia. 
 
"Para produsen kecil sebagian besar berdagang di pasar spot, yang dilarang," kata Tanuwijaya.
 
Sementara itu harga timah untuk pengiriman 3 bulan menetap di US$21.275 per ton pada London Metal Exchange pada 18 November. 
 
Adapun persediaan timah yang dimonitor oleh LME merosot 23% pada Oktober, penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2008, ketika mereka kehilangan 36%. (23/arh)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top