Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah & Won pimpin pelemahan valuta regional

JAKARTA: Rupiah dan Won Korea Selatan memimpin penurunan mata uang regional Asia sejalan kecemasan yang membayangi zona euro setelah imbal hasil obligasi Italia mencapai rekor.Mata uang domestik juga terguncang setelah Bank Indonesia menurunkan suku
News Editor
News Editor - Bisnis.com 10 November 2011  |  19:12 WIB

JAKARTA: Rupiah dan Won Korea Selatan memimpin penurunan mata uang regional Asia sejalan kecemasan yang membayangi zona euro setelah imbal hasil obligasi Italia mencapai rekor.Mata uang domestik juga terguncang setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 50 basis poin ke 6% hari ini.Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti mengatakan dua faktor yang menyebabkan rupiah turun lumayan dalam, faktor global dan kebijakan bank sentral."Pengunduran diri PM Italia secara politik menambah kecemasan soal zona euro, membuat orang kembali kepada mata uang safe haven seperti dolar," katanya.Pasar khawatir dengan kondisi Italia yang akan berjuang keras untuk membayar utang, melemahkan permintaan aset berisiko dari negara berkembang. Pada saat yang sama pertumbuhan ekspor China lebih lemah dari perkiraan ekonom.Selain faktor global, kata Destry, kebijakan BI menurunkan suku bunga menjadi kejutan sekalipun pasar mungkin setuju bunga turun.Dia mengatakan seharusnya BI harus lebih hati-hati dan menyimpan kebijakan itu sebagai amunisi jika muncul kondisi anomali. Akibatnya, sektor perbankan paling terlihat menderita dengan turunnya harga saham cukup dalam karena investor asing kaget.Nilai tukar rupiah menuju penurunan terbesar sejak September setelah bank sentral memangkas suku bunga acuan 50 basis poin hari ini.Sebelumnya, 11 dari 19 ekonom dalam survei Bloomberg memprediksi tidak ada perubahan sementara 8 memperkirakan penurunan 25 basis poin.Data Bloomberg yang dihimpun dari beberapa bank domestik menunjukkan rupiah sempat anjlok ke 9.040 atau 1,6% dari penutupan kemarin, sebelum ditutup pada 9.000 per dolar."Pasar tidak siap untuk pemotongan, apalagi sebesar 50 basis poin yang mereka umumkan. Rupiah kehilangan dukungan dari perbedaan suku bunga," kata Dariusz Kowalczyk, ahli strategi senior Credit Agricole PBl di Hong Kong.  Sementara itu won mengalami penurunan terbesar dalam 5 minggu setelah biaya pinjaman Italia melampaui level tertinggi sebelumnya. mata uang Korsel itu tergelincir 1,5% menjadi 1.134,38 per dolar pada penutupan di Seoul.Data Ekspor Gerus PesoAdapun peso Filipina merosot terendah dalam 2 minggu setelah ekspor negara itu anjlok ke level yang paling rendah dalam 2 tahun pada September.Data pemerintah menunjukkan ekspor merosot 27% pada September dari tahun sebelumnya, yang paling rendah sejak April 2009. Peso Filipina turun 0,7% menjadi 43,345 dan baht Thailand melemah 0,5% menjadi 30,87.Pesanan mesin di Jepang, tujuan utama pengiriman dari Filipina, menurun 8,2% pada September dari posisi Agustus. Sedangkan ekonom dalam jejak pendapat Bloomberg hanya mengestimasikan penurunan 7,1%."Pelemahan peso hari ini sebagian besar disebabkan oleh kegugupan di zona euro dan diperparah lagi oleh data ekspor yang lebih lemah dari yang diperkirakan," kata Radhika Rao, ekonom Forecast Pte di Singapura.Di tempat lain, yuan China turun 0,15% menjadi 6,3497 per dolar di Shanghai. Pemerintah China hari ini melaporkan ekspor naik 15,9% pada Oktober dari bulan yang sama tahun lalu, itu adalah kenaikan terkecil sejak Februari.Sementara itu ringgit Malaysia kehilangan 0,6% menjadi 3,1528 per dolar dan menyentuh level terendah dalam sebulan.Menurut 18 dari 19 ekonom dalam survei Bloomberg Bank Negara, bank sentralnya Malaysia, akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga overnight pada 3% dalam pertemuan akhir tahun yang dijadwalkan besok.Kondisi pasar saham juga menampakkan guncangan yang ditunjukkan dengan turunnya Indeks saham MSCI Asia-Pacific 3,5%, menjadikannya sebagai kerugian terbesar sejak 22 September. Penurunan itu menyusul terperosoknya Indeks saham AS Standard&Poor 3,7% kemarin.Imbal hasil 10-tahun Italia obligasi naik 48 basis poin kemarin menjadi 7,25%, penutupan tertinggi sejak awal rezim euro pada 1999. (faa)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : M. Taufikul Basari

Editor : Dara Aziliya

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top