Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga kontrak minyak turun 6,3%

NEW YORK: Harga kontrak minyak mentah turun ke level terendah dalam satu bulan terakhir karena berkurangnya permintaan dari Amerika Serikat dan pasar lain di tengah kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi. Harga minyak untuk pengiriman November
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  21:50 WIB

NEW YORK: Harga kontrak minyak mentah turun ke level terendah dalam satu bulan terakhir karena berkurangnya permintaan dari Amerika Serikat dan pasar lain di tengah kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi. Harga minyak untuk pengiriman November turun US$5,40 (6,3%) menjadi US$80,52 per barel di New York Mercantile Exchange. Harga sebelumnya sempat meneyentuh US$80,25, terendah sejak 19 Agustus.Harga Brent untuk penyelesaian November melemah US$4,82 (4,4%) menjadi US$105,54 per barel di ICE Futures Europe, London. Harga acuan untuk Eropa ini sempat menyentuh US$105,30, terendah sejak 22 Agustus.Harga perdagangan berjangka hasil tambang ini sempat merosot 6,6% setelah Fed menyebutkan akan membeli utang jangka panjang bernilai US$400 miliar untuk menjaga ekonomi terjerumus ke resesi. Satu laporan menyebutkan pabrikan di China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia, mungkin melakukan kontrak bulan ini."Isyarat perlemahan ekonomi terlihat di beberapa tempat dan kita menyaksikan pengaruhnya terhadap bursa komoditas dan saham," kata Michael Lynch, president dari Strategic Energy & Economic Research di Winchester, Massachusetts.Sektor manufaktur di China diprediksi menurun untuk bulan ketiga pada September, kontraksi terpanjang sejak 2009 setelah indeks purchasing managers menunjukkan order ekspor dan produksi menurun. Indeks yang dirilis HSBC Holdings Plc and Markit Economics tercatat 49,4 untuk September dibandingkan dengan 49,9 pada Agustus dan 49,3 pada Juli."Harga minyak melemah karena kurangnya pemicu. Kita harus mengakui turunnya permintaan minyak dari AS dan pasar lainnya ditengah kekhawatiran pertumbuhan ekonomi," kata Myrto Sokou, analis pada Sucden Financial Ltd di London. (tw)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Nadya Kurnia

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top