Harga CPO capai level tertinggi

JAKARTA: Harga minyak kelapa sawit naik ke level tertingginya dalam lebih dari 2 bulan terakhir, dipicu oleh banjir di areal tanaman di AS, sehingga menghambat penanaman jagung dan kedelai.Harga kontrak minyak kelapa sawit untuk pengiriman Agustus naik
Errol Poluan
Errol Poluan - Bisnis.com 30 Mei 2011  |  09:37 WIB

JAKARTA: Harga minyak kelapa sawit naik ke level tertingginya dalam lebih dari 2 bulan terakhir, dipicu oleh banjir di areal tanaman di AS, sehingga menghambat penanaman jagung dan kedelai.Harga kontrak minyak kelapa sawit untuk pengiriman Agustus naik 0,8% menjadi 3.464 ringgit atau sekitar US$1.148 per metrik ton pada Malaysia Derivatives Exchange yang merupakan level tertinggi sejak 21 Maret.Kontrak tersebut mengakhiri sesi perdagangan pagi pada level 3.453 ringgit per ton. Sepanjang pekan lalu, harga kontrak teraktif ini naik 1,4%. Ini merupakan kenaikan harga dalam 6 hari berturut-turut.Produksi biji-bijian dunia terancam oleh cuaca yang buruk, mulai dari kekeringan di China dan Eropa hingga cuaca lembab yang berlebihan di AS dan Kanada. Sementara penanaman di AS telah naik kembali mendekati laju normal di kawasan terbesar tanaman jagung dan kedelai Iowa dan Illinois, produsen kecil termasuk Ohio, Indiana. Sementara, North Dakota justru tertinggal karena areal tanam digenangi lumpur akibat curah hujan tinggi di Lembah Ohio, banjir di sepanjang Sungai Mississippi, dan musim semi basah di negara bagian utara.Alvin Tai, analis OSK Research Sdn, mengatakan minyak kelapa sawit berproduksi cukup baik pada tahun ini. Namun, ada kekhawatiran pada produksi kedelai yang merupakan substitusi kelapa sawit."Hal ini karena kekeringan di China dan di Amerika Serikat dan bagian-bagian tertentu dari Mississipi yang tergenang sekarang," katanya.Petani kehabisan waktu untuk menanam jagung pada tahun ini setelah cuaca yang basah menyebabkan banjir areal pertanian, mulai dari North Dakota hingga ke Ohio. Petani kemungkinan mengalihkan jenis tanaman ke kedelai, yang dapat ditanam sampai akhir Juni. Kedelai dapat dilumatkan untuk membuat minyak goreng, sebagai alternatif dari kelapa sawit."Prospek tanaman kedelai di AS tidak bisa diperbaiki lagi, tetapi pasti akan ada dampak. Areal penanaman di negara itu masih banjir dan tidak ada yang dapat dilakukan," ujar Tai.Tai memperkirakan harga minyak sawit akan tetap kuat dalam 2 bulan ke depan dan mungkin diperdagangkan di kisaran 3.500 ringgit hingga 3.600 ringgit per ton.Rajesh Modi, seorang pedagang pada Sprint Exim Pte yang berbasis di Singapura, mengatakan harga kontrak berjangka berpotensi turun setelah menyentuh 3.500 ringgit per ton karena harga yang tinggi dapat menghalangi pembeli.Adapun, harga kontrak minyak kelapa sawit pada Dalian Commodity Exchange naik sebesar 0,9% menjadi 9.372 yuan atau sekitar US$1.445 per ton sebelum mengakhiri sesi perdagangan pagi di level 9.350 yuan per ton. Harga kontrak minyak kedelai untuk periode pengiriman yang sama naik 0,8% menjadi 10.398 yuan per ton.Di Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI), harga kontrak minyak kelapa sawit mentah berdenominasi rupiah (CPOTR) mencapai Rp9.990 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan dengan harga kontrak pengiriman yang sama pada awal bulan ini yaitu Rp9.370 per kg. Harga kontrak CPOTR untuk pengiriman Juli mencapai Rp10.185 per kilogram.G. M. Teoh, analis komoditas dan pedagang profesional pada CIMB Group, mengatakan Indonesia dan Malaysia adalah tempat perdagangan internasional minyak kelapa sawit. Dia memperkirakan total produksi dari kedua negara dapat mencapai 41 juta ton pada 2011.Kedua negara memiliki bursa yang memperdagangkan kontrak minyak kelapa sawit yaitu Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI)atau Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) dan Bursa Derivatif Malaysia (Malaysian Derivatives Exchange/MDX)Teoh mengemukakan posisi open interest perdagangan kontrak berjangka minyak kelapa sawit di kedua bursa mencapai 112.000 kontrak atau sekitar 2,8 juta ton. Dengan demikian, total tonase lindung nilai minyak kelapa sawit pada pasar berjangka di kedua negara kunci hanya sekitar 7% dari total produksi. (yes)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top