Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pendapatan Naik Laba Sampoerna Agro (SGRO) Justru Turun

Emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) mengantongi penjualan sebesar Rp3,62 triliun pada 2017, naik 24,40% year-on-year (yoy) dari sebelumnya Rp2,91 triliun.
sampoerna agro
sampoerna agro

Bisnis.com, JAKARTA-Emiten perkebunan PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) mengantongi penjualan sebesar Rp3,62 triliun pada 2017, naik 24,40% year-on-year (yoy) dari sebelumnya Rp2,91 triliun.

Dalam laporan keuangan perseroan, pendapatan 2017 mencapai Rp3,62 triliun, naik 24,40% dari 2016 sebesar Rp2,91 triliun. Beban pokok juga meningkat menjadi Rp2,65 triliun dari sebelumnya Rp2,27 triliun.

Laba bruto perusahaan naik menuju Rp962,11 miliar dari 2016 senilai Rp640,69 miliar. Laba usaha juga bertumbuh pada 2017 menjadi Rp651,59 miliar dari sebelumnya Rp447,16 miliar.

Namun, pada 2017 perusahaan mengalami beban pajak penghasilan sebesar Rp178,30 miliar, berbalik dari manfaat pajak penghasilan pada 2016 sejumlah Rp192,53 miliar. Faktor tersebut menekan laba tahun berjalan menjadi Rp303,03 miliar dari sebelumnya Rp459,36 miliar.

Laba bersih perusahaan pun terkoreksi menjadi Rp287,66 miliar. Nilai itu turun 34,90% yoy dari pencapaian 2016 sebesar Rp441,88 miliar.

Sementara itu, arus kas dari aktivitas operasi pada 2017 naik menjadi Rp810,46 miliar dari sebelumnya Rp548,34 miliar. Kas yang digunakan untuk aktivitas investasi sejumlah Rp617,53 miliar, turun dari 2016 sebesar Rp694,63 miliar.

Posisi kas dan setara kas pada akhir 2017 mencapai Rp504,48 miliar. Jumlah itu menurun dibandingkan 2016 sebesar Rp897,02 miliar.

Pada 2017, liabilitas SGRO menurun menjadi Rp4,28 triliun dari sebelumnya Rp4,57 triliun. Liabilitas jangka pendek juga merosot menuju Rp1,25 triliun dibandingkan 2016 sebesar Rp1,43 triliun.

Ekuitas perseroan naik menjadi Rp4 triliun dari 2016 sejumlah Rp3,76 triliun. Total aset SGRO turun menuju Rp8,28 triliun dari sebelumnya Rp8,33 triliun.

Head Of Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Michael Kesuma menyampaikan, peningkatan pendapatan perseroan pada 2017 ditopang pertumbuhan volume penjualan CPO dan kenaikan harga.

Tahun lalu, penjualan CPO naik 28% yoy menjadi Rp2,82 triliun dari sebelumnya Rp2,20 triliun. Adapun, pemasaran minyak inti sawit meningkat 24% yoy menuju Rp554,15 miliar dari 2016 senilai Rp445,58 miliar.

Dari sisi operasional, produksi tandan buah segar (TBS) inti pada 2017 naik 4% yoy menjadi 856.004 ton dari sebelumnya 822.740 ton, dan TBS eskternal tumbuh 9% yoy menuju 687.129 ton.

"Sementara produksi minyak sawit meningkat 8% yoy pada 2017 menjadi 322.761 ton," paparnya, Selasa (27/3/2018).

Harga minyak sawit setelah pengurangan pajak ekspor naik 9% yoy menjadi Rp8.274 per kg dari sebelumnya Rp7.599 per kg. Adapun, harga inti sawit meningkat 11% yoy menuju Rp7.302 per kg dari 2016 senilai Rp6.600 per kg.

Menurutnya, periode 2017 merupakan momen pemulihan seiring dengan berkurangnya efek cuaca buruk akibat El Nino yang berlangsung sejak 2015. Untungnya, harga relatif cukup kuat kendati produksi mengalami peningkatan.

Namun, sambung Michael, laba bersih perseroan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, karena pada 2016 ada sumbangan pendapatan dari pajak tangguhan dan penjualan entitas anak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper