OBLIGASI BANK SULUT: Diklaim Kelebihan Permintaan 1,3 Kali

PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara (Bank Sulut) mengklaim penawaran obligasi mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,3 kali dari yang ditawarkan sebesar Rp750 miliar.
Herdiyan | 02 Oktober 2014 17:27 WIB
Ilustrasi penerbitan obligasi - Bisnis

Bisnis.com, MANADO—PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara (Bank Sulut) mengklaim penawaran obligasi mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,3 kali dari yang ditawarkan sebesar Rp750 miliar.

Direktur Operasional Bank Sulut Judy Koagow menuturkan kelebihan permintaan itu dinilai menjadi bukti bahwa bank pembangunan daerah (BPD) menjadi salah satu sektor yang diminati oleh pasar.

“Meski dibayangi pasar yang kurang stabil, permintaan obligasi kami mencapai hampir Rp1 triliun,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (2/10/2014).

Bank dengan slogan Torang pe Bank ini telah melakukan penawaran perdana dan paparan publik penerbitan obligasi yang ditargetkan dapat memberikan dana senilai Rp750 miliar.

Adapun jangka waktu obligasi tersebut adalah lima tahun dari jumlah pokok obligasi dengan kupon obligasi yang ditawarkan berkisar 11,35%-12,35%.

Masa penawaran awal (bookbuilding) obligasi V ini yakni pada 15-23 September 2014. Adapun masa penawaran umum dijadwalkan pada 2-3 Oktober 2014. Sementara itu, pencatatan di Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 9 Oktober 2014.

“Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sesuai dengan tanggal pembayaran yang rencananya mulai dilakukan pada 8 Januari 2015,” ujarnya.

Pembayaran bunga obligasi terakhir akan dilakukan pada tanggal jatuh tempo yakni pada 8 Oktober 2019. Penjamin emisi dari obligasi ini adalah PT BCA Sekuritas, PT Mandiri Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT MNC Securities.

Obligasi ini akan dijamin dengan jaminan khusus berupa tagihan yang timbul dari kredit yang diberikan perseroan kepada nasabah perseroan dengan kategori lancar. Jaminan yang diberikan tersebut sekurang-kurangnya 125% dari jumlah pokok obligasi.

“Meski terjadi oversubscribed, kami tetap akan menyerap Rp750 miliar saja,” tuturnya.

Rencananya, kata Judy, dana hasil obligasi tersebut akan digunakan perseroan untuk ekspansi kredit pembiayaan.

Di sisi lain, Bank Sulut mengincar pertumbuhan laba sebesar 25% tahun ini atau setara dengan nominal sebesar Rp225 miliar.

Direktur Pemasaran Bank Sulut Novie Kaligis mengatakan target laba itu sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) karena pembiayaan masih bisa bertumbuh karena likuiditas yang masih longgar.

“NIM memang sedikit turun pada kuartal I/2014 karena kami menurunkan suku bunga kredit konsumtif tapi akhir tahun akan naik,” ujarnya.

Novie menuturkan NIM perseroan ditargetkan mencapai 10% pada akhir tahun ini, turun tipis dari kondisi akhir tahun lalu yang sebesar 11,49%. Adapun pada semester I/2014 NIM Bank Sulut pada level 10,11%.

Dia menjelaskan menyiasati penurunan NIM, perseroan melakukan efisiensi sehingga biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga menurun menjadi 73,43%. BOPO itu akan dipertahankan hingga akhir tahun ini.

Tag : Obligasi
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top