Bisnis.com, JAKARTA – PT BUMA International Grup Tbk. (DOID) mengalami rugi bersih US$61,3 juta atau setara Rp990,9 miliar (kurs Rp16.157 per dolar AS 31 Desember 2024) sepanjang tahun 2024. Rugi ini berbanding terbalik dengan raihan laba bersih pada 2023.
Berdasarkan Laporan Keuangan, DOID mencetak pendapatan sebesar US$1,75 miliar. Pendapatan ini turun 4,2% dari tahun 2023 yang sebesar US$1,83 miliar.
Pendapatan ini dikontribusi oleh pelanggan DOID yaitu PT Indonesia Pratama sebesar US$411 juta, PT Berau Coal sebesar US$306,8 juta, PT Adaro Indonesia sebesar US$191,8 juta, dan BM Alliance Coal Operations Pty Ltd senilai US$139,35 juta.
Sementara itu, secara segmen pendapatan DOID dikontribusi dari Investasi sebesar US$4,88 juta, penambangan batu bara dan jasa pertambangan US$1,76 miliar, dan pendapatan lain-lain sebesar US$4,39 juta.
Secara geografis, pendapatan DOID diperoleh dari Indonesia sebesar US$1,2 miliar, Australia sebesar US$523 juta, dan dari Amerika Serikat sebesar US$32,3 juta.
Lebih lanjut, beban pokok pendapatan DOID meningkat 1,03% menjadi US$1,6 miliar, dari tahun 2023 yang sebesar US$1,58 miliar. Alhasil DOID mencetak laba bruto sebesar US$153,04 juta, atau turun 37,9% dari tahun 2023 yang sebesar US$246,4 juta.
DOID mencetak rugi bersih sebesar US$61,3 juta atau setara Rp990 miliar, berbanding terbalik dari laba bersih tahun 2023 yang sebesar US$36,01 juta.
Adapun DOID membukukan total aset sebesar US$1,58 miliar sepanjang tahun 2024, turun dari 2023 yang sebesar US$1,87 miliar. Total liabilitas DOID pada 2024 adalah sebesar US$1,39 miliar, turun dari tahun 2023 yang sebesar US$1,6 miliar.
Sementara itu, total ekuitas DOID juga turun dari US$272,6 juta pada 2023 menjadi US$193,4 juta pada 2024.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.