Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

China Lanjutkan Lockdown, Harga Tembaga Anjlok 2,3 Persen

Harga tembaga merosot akibat komitmen China melanjutkan kebijakan lockdown.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 08 November 2022  |  13:59 WIB
China Lanjutkan Lockdown, Harga Tembaga Anjlok 2,3 Persen
Harga tembaga merosot akibat komitmen China melanjutkan kebijakan lockdown. Bloomberg/Andrey Rudakov
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga terkoreksi ke level terendahnya dalam sepekan seiring dengan komitmen China melanjutkan kebijakan zero Covidnya dan melakukan lockdown.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (8/11/2022), harga tembaga anjlok 2,3 persen ke level US$7.914,50 per ton di London Metal Exchange (LME). Koreksi harga juga terjadi pada alumunium yang menurun 0,8 persen, sementara itu harga seng menguat dan nikel melemah.

Pada Sabtu pekan lalu, Pemerintah China menegaskan komitmennya untuk melakukan lockdown ketat untuk mencegah penyebaran virus corona. Hal tersebut memicu koreksi harga di pasar logam dasar setelah sempat menguat pekan lalu.

Sebelumnya, harga komoditas dan pasar saham sempat naik setelah adanya spekulasi pemerintah China akan melonggarkan kebijakan lockdownnya.

Kebijakan ketat pemerintah China berimbas pada turunnya tingkat permintaan pada pasar logam dasar seperti tembaga. Pelemahan di pasar properti serta lonjakan suku bunga acuan dari The Fed turut menekan prospek permintaan tembaga.

Sebagai informasi, China merupakan negara konsumen tembaga terbesar di dunia. Laporan riset dari Jinrui Futures menyebutkan, harga tembaga gagal mengatasi optimisme pasar yang berlebihan terkait potensi pelonggaran lockdown China.

“Meski demikian, kemunduran harga kemungkinan hanya berlangsung singkat menyusul pernyataan pejabat pemerintah China bahwa beberapa pembatasan yang berlebihan akan dikurangi,” demikian kutipan laporan tersebut.

Adapun, penurunan data impor dan ekspor China yang tidak terduga pada Senin kemarin juga ikut menekan outlook permintaan tembaga dari negara tersebut. Seiring dengan hal tersebut, impor bijih tembaga dan tembaga yang tidak ditempa (unwrought copper) pun turut menurun.

Analis Liberum Capital Tom Price menjelaskan, saat ini merupakan fase terlemah dari perdagangan komoditas global.

“Pelonggaran lockdown jelang musim dingin di tengah kenaikan infeksi Covid di China sepertinya tidak rasional untuk investor – investor yang bullish pada tembaga,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas tembaga harga tembaga logam china
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top