Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Laba Emiten TP Rachmat (TAPG) Melesat Jadi Rp1,77 Triliun pada Semester I/2022

Triputra Agro Persada (TAPG) meningkatkan laba bersih menjadi Rp1,77 triliun pada semester I/2022, melesat 338,5 persen secara tahunan dari Rp405,8 miliar.
Penyelenggaraan RUPST PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) pada Jumat (25/6/2021). George Oetomo (Direktur), Budiarto Abadi (Direktur), Tjandra Karya Hermanto (Presiden Direktur), Toddy M Sugoto (Komisaris/ Pemimpin Rapat), Ir. Maruli Gultom (Komisaris Independen) dan Sutedjo Halim (Direktur)./ TAPGrn
Penyelenggaraan RUPST PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) pada Jumat (25/6/2021). George Oetomo (Direktur), Budiarto Abadi (Direktur), Tjandra Karya Hermanto (Presiden Direktur), Toddy M Sugoto (Komisaris/ Pemimpin Rapat), Ir. Maruli Gultom (Komisaris Independen) dan Sutedjo Halim (Direktur)./ TAPGrn

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten sawit milik TP Rachmat PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) membukukan peningkatan kinerja hingga semester I/2022.

Berdasarkan laporan keuangannya, Triputra Agro Persada membukukan penjualan sebesar Rp4,61 triliun pada semester I/2022, naik 61,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar Rp2,85 triliun.

Penjualan perseroan terbagi menjadi tiga produk, yakni minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit sebesar Rp4,57 triliun, tandan buah segar Rp20,7 miliar, dan karet Rp14,5 miliar.

Perseroan tercatat menjual produk kelapa sawitnya ke PT Sinar Alam Permai sebesar Rp1,26 triliun, PT Kutai Refinery Nusantara Rp710,6 miliar, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) Rp559,7 miliar, PT Wilmar Nabati Indonesia Rp438 miliar, dan PT Energi Unggul Persada Rp342,3 miliar.

Presiden Direktur TAPG Tjandra Karya Hermanto mengatakan, pada semester I/2022, harga komoditas masih berada pada level yang tinggi dan berpengaruh langsung pada kinerja perseroan. Harga jual CPO meningkat hingga 69 persen akibat tingginya demand pada awal 2022, sedangkan harga jual PK juga mengalami peningkatan harga yang hampir menyamai sebesar 68 persen pada pasar global.

Selain itu, adanya kendala logistik menyebabkan turunnya volume penjualan CPO hingga 6 persen. Namun, penjualan PK meningkat 13 persen akibat demand yang tinggi.

Karena peningkatan harga jual yang signifikan, maka penjualan CPO dan PK mencapai Rp3,8 triliun dan Rp742 miliar, atau meningkat 59 persen dan 88 persen pada semester I/2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dengan peningkatan penjualan tersebut, perseroan tercatat mampu meningkatkan laba bersih menjadi Rp1,77 triliun di semester I/2022, melesat 338,5 persen secara tahunan dari Rp405,8 miliar.

Tjandra melanjutkan, peningkatan yang sangat signifikan disebabkan oleh produksi yang tinggi dibandingkan tahun lalu. Hal ini dikarenakan iklim yang baik dan mayoritas umur tanaman kelapa sawit perseroan berada pada usia produktif.

Selain itu, peningkatan laba bersih juga didukung harga jual komoditas yang masih tinggi dan beban produksi yang masih terkontrol, sehingga perseroan dapat mencetak kenaikan laba bersih yang cemerlang.

“Iklim yang baik pada tahun 2020-2021 mendorong peningkatan produksi yang sangat signifikan, seiring umur tanaman yang masih berada di usia produktif, juga didukung dengan harga Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) yang masih tinggi, serta upaya perseroan mengejar produktivitas, dan mengontrol beban produksi sehingga hasil yang diperoleh jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Tjandra dalam keterangan resminya, Senin (25/7/2022).

Hingga 30 Juni 2022, total aset TAPG naik 14 persen menjadi Rp13,9 triliun yang disebabkan oleh kenaikan persediaan dan kepentingan dalam ventura bersama.

Total kewajiban turun 9,4 persen menjadi Rp4,8 triliun yang dipicu pembayaran pinjaman dari bank yang langsung berdampak pada penurunan beban keuangan dan masih sejalan dengan program perseroan untuk memperkuat struktur keuangan.

Sementara itu, ekuitas TAPG meningkat 31,7 persen mencapai Rp9,1 triliun seiring peningkatan laba setelah pajak yang diperoleh perseroan.

Tjandra melanjutkan, keunggulan TAPG berasal dari umur tanaman yang mayoritas masih berada pada umur produktif dengan rata-rata mencapai 12,2 tahun per 30 Juni 2022. Dengan iklim yang kondusif selama dua tahun terakhir, maka perseroan yakin hal tersebut akan meningkatkan pertumbuhan produksi yang signifikan di tahun 2022 ini.

"Selain itu, komitmen TAPG untuk menerapkan best agronomic practices dan pemupukan yang optimal juga menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan produksi perseroan pada 2022,” tutur Tjandra

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper