Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Meski Tembus Rp15.000, Pelemahan Rupiah Diperkirakan Sementara

Pelemahan rupiah diperkirakan cenderung bersifat jangka menengah dan masih berpotensi menguat secara gradual pada Agustus karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari The Fed.
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta. Pelemahan rupiah diperkirakan cenderung bersifat jangka menengah dan masih berpotensi menguat secara gradual pada Agustus karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari The Fed. Bisnis/Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta. Pelemahan rupiah diperkirakan cenderung bersifat jangka menengah dan masih berpotensi menguat secara gradual pada Agustus karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari The Fed. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan berlangsung sementara sehingga masih berpotensi kembali ke level Rp14.500-an pada 2022.

Pada Rabu (6/7/2022), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp15.000 sebelum ditutup melemah 0,04 persen atau 5,5 poin sehingga parkir di posisi Rp14.999 per dolar AS.

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menjelaskan pelemahan rupiah didorong oleh kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi China. Ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi China turun setelah Shanghai kembali melakukan tes massal Covid-19.

Dia memperkirakan pelemahan nilai tukar cenderung bersifat jangka menengah dan rupiah berpotensi menguat secara gradual pada Agustus karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari The Fed seiring dengan mulai melambatnya ekonomi AS.

“Rupiah diperkirakan mampu memangkas pelemahannya pada akhir tahun terutama akibat dimulainya peningkatan suku bunga Bank Indonesia,” Katanya.

Josua memperkirakan rupiah bakal bergerak di kisaran Rp14.550–Rp14.750 pada akhir tahun. Sementara pada perdagangan Kamis (7/7/2022), rupiah diramal bergerak di kisaran Rp14.950–15.050 per dolar AS.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengemukakan pelemahan rupiah yang cepat dalam sebulan terakhir dipicu oleh banyak faktor. Salah satunya adalah meningkatnya risiko global akibat pandemi dan perang yang tecermin pada inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi.

“Ini juga dipengaruhi respons kebijakan moneter terhadap tingginya inflasi,” kata Piter ketika dihubungi, Rabu (6/7/2022).

Piter menjelaskan risiko pelemahan rupiah bakal makin besar, sejalan dengan menyempitnya selisih antara suku bunga domestik dan suku bunga internasional. Dia mengatakan keputusan BI menahan suku bunga acuan bisa menahan masuknya aliran modal asing atau bahkan mendorong modal asing keluar dari indonesia.

“Hal ini tidak hanya menekan harga di pasar saham dan pasar obligasi, tetapi sekaligus juga melemahkan rupiah. Investor asing keluar dari pasar SBN dan juga pasar modal,” lanjutnya.

Pelemahan rupiah, kata Piter, bisa meningkatkan risiko investasi sekaligus menurunkan masuknya investasi asing ke indonesia. Pelemahan rupiah juga meningkatkan potensi inflasi di Indonesia dan mengganggu daya beli masyarakat.

“Inflasi indonesia bisa meningkat lebih besar dan memangkas daya beli masyarakat. Pada akhirnya justru menahan konsumsi dan pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper