Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Diapresiasi Pasar! Ini Penjelasan UNVR

Sentimen positif dari para pelaku pasar modal selama sepekan kemarin merefleksikan kinerja kuartal I/2022 Unilever (UNVR), sejalan dengan praktik tata kelola perusahaan yang baik (GCG) yang berfokus pada peningkatan daya saing yang berkelanjutan.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 18 Mei 2022  |  14:24 WIB
Logo Unilever di kantor pusat Unilever NV di Rotterdam, Belanda, Kamis (11/5/2017). - Bloomberg/Jasper Juinen
Logo Unilever di kantor pusat Unilever NV di Rotterdam, Belanda, Kamis (11/5/2017). - Bloomberg/Jasper Juinen

Bisnis.com, JAKARTA–  Sepekan kemarin, emiten produk konsumen UNVR mencuri perhatian publik dengan kinerja saham yang meyakinkan. Hal ini setelah harga sahamnya terbang dari Rp 3.890/unit ke level Rp 4.800/unit atau apresiasi sebesar 23,39%.

Bahkan apresiasi saham UNVR terjadi di tengah pasar modal dalam negri yang muram di mana IHSG terpaksa tumbang 8,73% dalam sepekan. Kinerja saham UNVR yang naik 23,39% persen dalam sepekan, menjadi indikator bahwa persepsi investor terhadap perusahaan kembali positif.

Secara fundamental, tekanan dari sisi biaya produksi efek harga bahan baku yang meningkat juga berimbas ke UNVR, namun strategi yang dijalankan selama pandemi terbukti berhasil. Penurunan kinerja di tengah pandemi sangat wajar, apalagi untuk perusahaan consumer goods.

Sekretaris Perusahaan UNVR Reski Damayanti menjelaskan bahwa perseroan terus memonitor secara intensif sentimen pelaku pasar modal terhadap pergerakan harga saham Unilever Indonesia, sejalan dengan perkembangan kinerja perseroan di setiap periode.

Reski juga melihat adanya sentimen positif dari para pelaku pasar modal selama sepekan kemarin yang merefleksikan kinerja kuartal I/2022, sejalan dengan praktik tata kelola perusahaan yang baik (GCG) yang berfokus pada peningkatan daya saing yang berkelanjutan.

"Hasil kuartal pertama tersebut mulai menunjukkan bahwa strategi prioritas kami tepat sasaran, sehingga kami percaya bahwa Perusahaan telah berada di jalur yang benar untuk membangun pertumbuhan bisnis yang lebih cepat dan berkelanjutan," jelas Reski, dikutip dari siaran pers, Rabu (18/5/2022). 

Disinggung terkait dengan rumor PHK massal yang saat ini merebak di media sosial, Reski menyatakan bahwa manajemen dan perusahaan selalu menghormati aspirasi karyawan dan berbagai platform resmi yang ditujukan untuk menyampaikan aspirasi serta berdialog secara konstruktif.

 “Terkait pemberitaan yang menyebutkan bahwa Perusahaan kembali melakukan PHK kembali pada 65 karyawan, kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar dan menyesatkan”, terang Reski

Reski menjelaskan, bahwa seperti yang telah disampaikan pada awal April 2022, Perusahaan melakukan penyesuaian pada unit-unit spesifik yang telah berakhir masa operasionalnya. Jumlah karyawan yang terdampak penyesuaian operasional ini adalah 161 karyawan, tidak ada penambahan.

Dari jumlah tersebut, mayoritas karyawan terdampak yakni sebanyak 96 orang telah menandatangani persetujuan untuk menerima paket pesangon yang disiapkan, sementara 65 karyawan lainnya memutuskan belum menerima.

Pesangon yang ditawarkan Perusahaan memiliki nilai yang melebihi standar kewajiban yang ditetapkan undang-undang. Perseroan juga memberikan berbagai dukungan lain diantaranya insentif tambahan, pelatihan, dan serangkaian paket manfaat yang akan mendukung kesiapan karyawan terdampak agar dapat tetap produktif pasca menyelesaikan masa kerja perusahaan.

"Paket dan program terbaik ini adalah wujud penghargaan dan apresiasi tulus kami atas jasa para karyawan yang terdampak yang juga telah berkontribusi bagi kemajuan perseroan selama ini. Bagi Perusahaan, ini bukan keputusan yang mudah. Namun untuk dapat bertahan di tengah situasi yang terus berubah, dan agar dapat tetap relevan di masa depan (future-fit) kami perlu secara berkesinambungan melakukan transformasi pada keseluruhan rantai operasi bisnis Perusahaan”, tutur Reski.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada menyampaikan, terkait volatilitas saham UNVR yang  mengalami penurunan cukup tajam, terutama pada periode awal pandemi merupakan sentimen wajar. Penurunan itu juga sejatinya tidak sejalan dengan fundamental UNVR itu sendiri yang secara kinerja tetap baik, meski dari sisi laba turun terimbas pandemi.

”Kondisi fundemental UNVR tidak buruk, selama pandemi masih peroleh laba, masih tercatat untung, dibandingkan perusahaan lain yang justru mencatatkan kerugian,” ucap Reza.

Terkait pengurangan SDM, Reza berpendapat bahwa hal tersebut menjadi salah satu opsi untuk mencapai efisiensi operasional. Menimbang komposisi yang ada saat ini, dapat dikatakan apa yang dilakukan UNVR tidak bersifat massal.

“Pengurangan SDM itu kalau menurut saya, hal lumrah di tengah kondisi bisnis saat ini, apalagi bisnis saat ini banyak ditopang digitalisasi dan peluang implementasi teknologi di banyak lini,” kata Reza.

Misal dari yang tadinya untuk membuat sebuah produk perlu 10 orang, dengan bantuan digitalisasi teknologi, hanya perlu tiga orang saja. Otomatis sisanya ada terkena efisiensi. Atau jika dimungkinan, bisa saja pengurangan itu dialihkan ke unit produksi yang lain.

Masalahnya, kata Reza, pelaku pasar itu seringkali tak memeriksa data secara langsung, dan hanya membaca dari apa yang tersaji di media sosial. Sehingga menjadi heboh dan tidak sesuai fakta sebenarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unilever phk unvr unilever indonesia pt unilever indonesia tbk.
Editor : Puput Ady Sukarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top