Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Penyebab Rupiah Ditutup Melemah Hari Ini ke Rp14.598 per Dolar AS

Rupiah melemah saat dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya karena investor mencerna indeks harga konsumen (CPI) AS.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 12 Mei 2022  |  16:09 WIB
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta, Rabu (16/2/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Uang dolar dan rupiah di salah satu money changer di Jakarta, Rabu (16/2/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah melemah di hadapan dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (12/5/2022) tertekan penguatan indeks dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (12/5/2022) rupiah terkoreksi 44 poin atau 0,30 persen ke Rp14.598 per dolar AS. Sementara indeks dolar AS menguat 0,45 persen ke 104,31.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya karena investor mencerna indeks harga konsumen (CPI) AS, yang menunjukkan inflasi tetap tinggi tetapi telah mencapai puncaknya pada April, meredakan beberapa kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari Federal Reserve.

Inflasi AS sedikit mereda pada April sebesar 8,3 persen tetapi tetap mendekati level tertinggi 40 tahun. Data tersebut tidak akan menggagalkan rencana kebijakan moneter agresif Fed.

Indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,3 persen bulan ke bulan pada April, kenaikan terkecil sejak Agustus, menurut data Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Rabu, dibandingkan dengan kenaikan 1,2 persen bulan ke bulan di CPI Maret 2022, kenaikan terbesar sejak September 2005.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunganya menjadi 1 persen pekan lalu untuk mendinginkan inflasi, kenaikan terbesar dalam 22 tahun. Investor khawatir tentang kebijakan pengetatan dari The Fed dapat menyebabkan resesi. Imbal hasil AS 10-tahun memperpanjang penurunan menjadi 2,90 persen.

Investor mengharapkan setidaknya 50 basis poin kenaikan pada masing-masing dari dua pertemuan Fed berikutnya, pada 15 Juni dan 27 Juli, menurut Alat FedWatch CME.

Dari sisi internal, berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), kinerja penjualan eceran pada April 2022 diperkirakan meningkat. Ini terindikasi dari Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2022 yang sebesar 219,3 atau naik 6,8 persen month on month (mom) dari 205,3 pada bulan Maret 2022. Bahkan pertumbuhan pada bulan April 2022 ini juga lebih tinggi dari pertumbuhan sebesar 2,6 persen mom pada Maret 2022.

Peningkatan ini didorong oleh peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pada bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Besar Keagamaan Negara (HBKN) Idul Fitri.

Sedangkan peningkatan secara bulanan ini terjadi pada sebagian kelompok, yaitu kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 5,1 persen mom, Makanan, Minuman, dan Tembakau naik 8,1 persen mom, serta subkelompok Sandang naik 10,7 persen mom.

Sayangnya, bila dibandingkan dengan kinerja penjualan April 2021, penjualan eceran pada April tahun ini diperkirakan turun 0,5 persen yoy. Pertumbuhannya juga lebih rendah dari pertumbuhan Maret 2022 yang bahkan bisa tumbuh positif 9,3 persen yoy.

Kelompok yang tercatat menurun secara tahunan antara lain kelompok Barang Lainnya yang tergerus 13,4 persen yoy. Sedangkan, ada kelompok yang tercatat tumbuh melambat, yaitu Makanan, Minuman, dan Tembakau yang tumbuh 2,2 persen yoy, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor tumbuh 43,2 persen yoy, serta Suku Cadang dan Aksesori tumbuh 1,8 persen yoy.

Untuk perdagangan besok, Jumat (13/5/2022), Ibrahim memproyeksikan rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.580 - Rp14.640.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top