Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Tembus Rekor 7.000, Saham BBCA Jadi Favorit Asing

IHSG naik 0,55 persen atau 38,55 poin menjadi 7.030,95, rekor tertinggi intraday pada pukul 09.00 WIB.
Aprianto C. Nugroho & Lorenzo A. Mahardika
Aprianto C. Nugroho & Lorenzo A. Mahardika - Bisnis.com 17 Maret 2022  |  09:04 WIB
IHSG Tembus Rekor 7.000, Saham BBCA Jadi Favorit Asing
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ada perdagangan Kamis (17/3/2022) menembus rekor tertinggi 7.000 seiring dengan keputusan The Fed yang menaikkan suku bunganya yang mengerek bursa global.

IHSG naik 0,55 persen atau 38,55 poin menjadi 7.030,95, rekor tertinggi intraday pada pukul 09.00 WIB. Terpantau 211 saham menguat, 43 saham melemah, dan 203 saham stagnan. 

Investor asing cenderung masuk dengan net buy Rp84,01 miliar. Saham BBCA, BBRI, BMRI menjadi yang paling banyak diborong investor asing dengan net buy masing-masing Rp53,6 miliar, Rp29,1 miliar, dan Rp11,6 miliar.

Pada perdagangan Rabu (16/1/2022) kemarin, IHSG tercatat parkir di level 6.992,39 atau menguat 1,07 persen. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 315 saham menguat, 215 melemah, dan 152 lainnya menguning alias stagnan.

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps untuk sementara waktu melegakan pelaku pasar di Wall Street. Hal ini mendorong naiknya Indeks DJIA sebesar +1.55 persen.

"Jika dikombinasikan dengan naiknya EIDO sebesar +2.35%, kedua sentimen ini berpotensi menjadi katalis positif pendorong penguatan kembali IHSG dalam perdagangan hari ini," jelas Edwin dikutip dari risetnya.

Sementara itu, mayoritas bursa saham di Asia menguat hari ini setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018.

The Fed mengatakan ekonomi AS dapat mengatasi kebijakan bank sentral melawan inflasi yang tinggi, meskipun kurva imbal hasil Treasury yang lebih datar menimbulkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan mungkin sekuat yang diproyeksikan.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei Jepang menguat masing-masing 2,48 persen dan 3,6 persen. Di China, indeks Shanghai Composite menguat 1,4 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melesat 6,69 persen.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 1,52 persen dan S&P/ASX 200 Australia naik 1,4 persen.

Federal Reserve mengumumkan keputusan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018 sebesar 25 basis poin persentase untuk melawan kenaikan inflasi AS. The Fed lebih lanjut menunjukkan bahwa dapat menaikkan suku bunga di sisa enam pertemuan pada tahun 2022.

Ketua Fed Jerome Powell telah mengatakan kepada Kongres dalam beberapa pekan terakhir bahwa ia akan mendukung kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Fed Maret, memulai proses pengetatan kondisi keuangan untuk secara bertahap menurunkan permintaan dan inflasi.

The Fed juga merilis Ringkasan Proyeksi Ekonomi yang diperbarui, atau "dot plot", yang menunjukkan apa yang dipikirkan pejabat bank sentral tentang ke mana arah suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. jangka pendek.

Anggota rata-rata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengantisipasi The Fed akan menaikkan suku bunga hingga enam kali lagi tahun ini, menurut dot plot.

Pasar saham Asia juga dipengaruhi oleh sikap kebijakan China yang mengumumkan kebijakan yang lebih ramah pasar pada hari Rabu serta kemungkinan kemajuan dalam pembicaraan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina.

Kepala analis internasional di Dutsche Bank AG, Alan Ruskin, mengatakan kebijakan The Fed mengisyaratkan pesat yang sangat jelas bahwa mereka ingin kondisi keuangan diperketat.

“Masalahnya, bisakah ekonomi melakukan soft-landing [untuk merespons] hal ini? Secara historis, ketika The Fed melakukan pengetatan, aka nada mendapatkan hard landing di suatu tempat,” ungkap Alan, dikutip Bloomberg Kamis (17/3/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Bursa Asia Indeks BEI bca federal reserve
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top