Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Putin Siap Negosiasi dengan Ukraina, Wall Street Berbalik Menguat

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,02 persen ke level 33.562,01, sedangakan indeks S&P 500 menguat 0,69 persen ke level 4.318,66 pada awal perdagangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 25 Februari 2022  |  21:55 WIB
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan Jumat (25/2/2022), di tengah data ekonomi yang positif dan laporan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin siap untuk mengadakan pembicaraan dengan pemerintah di Ukraina.

Berdasarkan data Blooomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 1,02 persen ke level 33.562,01, sedangakan indeks S&P 500 menguat 0,69 persen ke level 4.318,66 pada awal perdagangan.

Di sisi lain, indeks Nasdaq 100 melemah 0,26 persen ke level 13.938,98.

Presiden China Xi Jinping sebelumnya mendorong Putin untuk bernegosiasi dengan pemerintah Ukraina.

Jinping mengatakan pada panggilan telepon dengan Putin itu mengenai pentingnya untuk meninggalkan mentalitas Perang Dingin, mementingkan dan menghormati masalah keamanan yang wajar dari semua negara, dan membentuk mekanisme keamanan Eropa yang seimbang, efektif dan berkelanjutan melalui negosiasi.

Sementara itu, Putin menguraikan alasan Rusia meluncurkan operasi militer khusus dan mengatakan kepada Jinping bahwa NATO dan Amerika Serikat telah lama mengabaikan masalah keamanan yang wajar dari Rusia. 

Dia juga mengatakan kepada Xi Jinping melalui telepon bahwa Rusia siap mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan Ukraina.

Pasukan Rusia terus melanjutkan serangan terhadap sasaran militer dan sipil pada hari kedua setelah AS dan sekutunya memberlakukan sanksi baru terhadap Rusia.

Obligasi pemerintah AS, dolar AS, dan emas melemah. Hal ini menandakan lesunya permintaan terhadap aset safe haven. Sentimen di AS juga terangkat setelah data ekonomi menunjukkan kenaikan pendapatan, pengeluaran pribadi, dan pesanan barang tahan lama pada Januari 2022 yang lebih tinggi dari perkiraan.

“Reaksi investor terhadap situasi seperti ini biasanya hanya singkat. Kami mengantisipasi investor pada akhirnya akan mengabaikan konflik dan berganti fokus menuju fundamental ekonomi yang mendasarinya,” kata Nikesh Patel dari Kempen Capital Management, dilansir Bloomberg, Jumat (25/2/2022).

Konflik yang berkepanjangan dapat memberikan pukulan besar ke pasar global dan memperlambat normalisasi kebijakan bank sentral yang diharapkan tahun ini. Sejumlah analis Wall Street memangkas perkiraan pada bursa saham Eropa di tengah kekhawatiran bahwa perang di Ukraina akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Pada saat yang sama, gangguan pasokan bahan baku dan makanan dapat memicu lonjakan harga dan memberikan tekanan pada bank sentral untuk bertindak lebih cepat dalam mengendalikan inflasi. Rusia saat ini merupakan salah satu pemasok komoditas terbesar di dunia, sedangkan Ukraina pengekspor biji-bijian utama.

Pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebanyak enam kali. Namun, ekspektasi siklus kenaikan bank sentral lainnya telah berkurang dalam beberapa hari terakhir.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street Perang Rusia Ukraina
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top