Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

The Fed Bakal Kerek Suku Bunga, Investor Diperkirakan Tinggalkan SBN Tenor Pendek

Ekonom memperkirakan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan Maret akan mendorong kenaikan yield obligasi terutama untuk tenor pendek. 
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 28 Januari 2022  |  06:02 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah rencana The Fed yang akan menaikkan suku bunga secara agresif, ekonom memperkirakan untuk sementara investor akan mengalihkan surat utangnya, terutama Surat Berharga Negara (SBN), ke tenor menengah hingga panjang. 

Senior Economist Samuel Sekuritas, Fikri C. Permana melihat bahwa secara umum kenaikan suku bunga oleh The Fed tidak ada kejutan karena isu ini memang sudah beredar dari tahun sebelumnya.

Namun tentu dengan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan Maret menurutnya akan mendorong kenaikan yield obligasi terutama untuk tenor pendek. 

“Orang akan sedikit menjaga diri di tenor pendek ya untuk SUN, tapi mungkin obligasi korporasi, orang mungkin akan berpindah ke rating yang lebih tinggi dalam artian mungkin yang lebih baik ya,” ungkap Fikri saat dihubungi Bisnis, Kamis (27/1/2022).  

Untuk obligasi korporasi, Fikri mengaku bahwa memang pilihan dan likuiditasnya terbatas, sehingga untuk memindahkan tenor akan lebih sulit bagi investor dibandingkan dengan obligasi negara atau SBN. 

Sementara itu, Fikri memperkirakan bahwa investor SBN dalam jangka pendek akan berpindah ke tenor jangka menengah atau mungkin tidak memilih tenor dalam rentang 2 - 10 tahun. Dan akan kembali berpindah pada tenor pendek setelah ada kejelasan di bulan Maret mendatang.  

Selain kenaikan suku bunga, menurut Fikri sentimen lain yang juga akan mempengaruhi pasar obligasi di Tanah Air adalah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Di mana hal ini akan menjadi indikator penggerak. 

“Saya lihat, kalau pasar tenaga kerjanya atau inflasinya kembali rendah saya pikir tetap ada ketakutan akan kenaikan Fed rate yang akan signifikan bisa sampai 4 sampai 5 kali,” ungkap Fikri. 

Namun jika ternyata tingkat inflasi masih persistence berada di level tinggi, Fikri mengatakan ada kemungkinan kenaikan suku bunga berada di level yang lebih rendah dan bisa menahan kenaikannya bahkan hanya bisa sampai tiga kali. 

Fikri pun mengingatkan kepada para pelaku pasar dalam negeri untuk tidak terlalu takut akan rencana kenaikan suku bunga The Fed karena dia melihat sentimen tersebut masih terjaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat berharga negara the fed
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top