Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Begini Cara Ancol (PJAA) Bertahan Hadapi Pandemi Covid-19

Perseroan menunda seluruh proyek inovasi yang mengeluarkan anggaran belanja modal perseroan untuk menghadapi pandemi Covid-19.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 30 Agustus 2021  |  18:24 WIB
Begini Cara Ancol (PJAA) Bertahan Hadapi Pandemi Covid-19
Sejumlah petugas Penanganan Prasarana Sarana Umum (PPSU) DKI Jakarta mencoba wahana permainan saat berwisata di Dufan, Ancol, Jakarta, Senin (22/7 - 2019). Wisata gratis bagi 20 ribu petugas PPSU tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada petugas yang telah menjaga kebersihan Ibu Kota. ANTARA
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) emiten yang bergerak di bidang rekreasi, resor dan properti ikut terdampak dengan badai pandemi Covid-19. Sejumlah strategi disiapkan perseroan bertahan badai pandemi.

Direktur Utama Pembangunan Jaya Ancol Teuku Sahir Syahali mengungkapkan perseroan menunda seluruh proyek inovasi yang mengeluarkan anggaran belanja modal perseroan untuk menghadapi pandemi Covid-19.

“Untuk dapat bertahan di masa pandemi, Manajemen melakukan beberapa hal untuk melakukan efisiensi cashflow diantaranya dengan penerapan strategi basic cost, dimana biaya yang dikeluarkan hanya yang benar-benar untuk keselamatan pengunjung, penjadwalan ulang semua proyek dan fokus untuk penyelesaian proyek Symphony of The Sea [kawasan pantai timur].” ungkapnya dalam paparan publik, Senin (30/8/2021).

Program-program pengembangan produk yang sempat tertunda karena pandemi akan tetap dijalankan untuk menyiapkan produk-produk yang lebih baik untuk menyongsong masa new normal, diantaranya upaya menambah segmen baru dengan pembangunan Masjid Apung, Museum Rasulullah dan fasilitas pendukungnya di kawasan Pantai Timur Ancol, serta penataan pedestrian lanjutan.

Selain itu, perseroan telah mencanangkan inisiatif transformasi bisnis secara menyeluruh sebagai respon terhadap beragam perubahan lokal dan global yang terjadi sangat cepat termasuk pandemi Covid-19. Dengan program transformasi ini, ditargetkan Perseroan akan menjadi World Class Brand of Indonesia melalui beragam inisiatif kegiatan dalam aspek finansial, revenue optimization, digital & operation, serta organization & talent.

Beberapa quick win saat ini sedang disusun untuk mendukung pelaksanaan transformasi meliputi perubahan struktur organisasi yang lebih efisien dan efektif, penyesuaian dan penyempurnaan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dengan kondisi bisnis Perusahaan, penyelesaian kewajiban dan utang serta pengembangan bisnis baru yang dapat meningkatkan revenue dengan membangun kolaborasi.

Sepanjang semester pertama tahun ini, perseroan mencatat pengunjung di pintu gerbang utama menurun 57 persen menjadi 1,6 juta orang dibandingkan dengan semester awal tahun lalu yang mencapai 2,83 juta pengunjung.

Tahun lalu, perseroan masih ditolong pengunjung pada Januari-Februari 2020 yang masih belum terdampak pandemi Covid-19.

Pendapatan perseroan juga anjlok 17 persen per 30 Juni 2021 ini menjadi Rp210,87 miliar turun dibandingkan dengan Rp254,21 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun, rugi bersih perseroan malah terpangkas menjadi rugi Rp94,86 miliar atau naik 35 persen dibandingkan dengan rugi Rp146,37 miliar pada semester pertama tahun lalu.

Posisi liabilitas perseroan meningkat 8 persen menjadi Rp2,46 triliun per 30 Juni 2021 ini dibandingkan dengan Rp2,28 triliun per akhir tahun lalu. Peningkatan ini karena perseroan mengeluarkan obligasi pada kuartal I/2021 lalu.

Di sisi lain, total aset perseroan naik 2 persen menjadi Rp4,12 triliun dari Rp4,04 triliun. Adapun, ekuitas perseroan menurun 6 persen menjadi Rp1,66 triliun dari Rp1,76 triliun sebagai dampak lanjutan dari pandemi.

Dalam rangka mengurangi dampak penyebaran Covid-19, sejak Maret 2020, unit rekreasi yang merupakan menjadi pendapatan utama Perusahaan ini mengalami penutupan operasional selama kurang lebih 6 bulan termasuk dalam masa libur sekolah, Lebaran, Natal dan Tahun Baru yang menjadi masa panen tempat rekreasi.

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi industri sektor rekreasi, beberapa tempat rekreasi bahkan sampai menutup usaha selamanya. Begitupun Jaya Ancol yang selama ini mempunyai backbone pendapatan dari sektor rekreasi juga terkena dampak yang signifikan.

Tercatat selama tahun 2020 kunjungan ke kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol anjlok 76% dari 18 juta pengunjung menjadi 4,5 juta pengunjung.

Begitu pula dengan wahana-wahana yang berada di dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol seperti Dunia Fantasi, Sea World Ancol, Ocean Dream Samudra, dan Atlantis Water Adventures juga ikut mengalami penurunan signifikan sebagai imbas ditutupnya tempat wisata pada masa PSBB maupun PPKM.

Pendapatan turun sebesar 70 persen dari Rp1,3 triliun pada 2019 menjadi Rp414 miliar pada tahun 2020 dengan profitabilitas pada 2019 laba sebesar Rp230 miliar turun menjadi rugi Rp392 miliar.

Meskipun total kewajiban naik sebesar 17 persen yang diakibatkan kenaikan utang (PBB, provisi) dan utang bank, dan total aset terkoreksi sedikit menurun 1,3 persen. Sedangkan ekuitas turun sebagai akibat kerugian yang tercatat di tahun 2020.

Meskipun kinerja keuangan tidak terlalu menggembirakan. Perusahaan tetap  mempertahankan komitmen tidak melakukan lay off kepada karyawan yang telah ikut membangun Perusahaan sampai saat ini.

Manajemen juga mempertahankan posisi free cash flow untuk menjamin kelangsungan operasi. Perusahaan dan menjaga credit rating dari Pefindo di single A sehingga termasuk dalam investment grade.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembangunan jaya ancol Covid-19
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top