Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

16 Saham IPO Kena Auto Reject Atas (ARA), Kenapa Bisa Terjadi?

Saat momentum IPO, kerap terjadi euforia di kalangan investor untuk membeli saham debutan karena harga rata-rata di pasar belum tercipta.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 10 Juni 2021  |  19:42 WIB
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA—Tren auto reject atas (ARA) pada saham yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui initial public offering (IPO) terus langgeng sepanjang 2021. Euforia di kalangan investor terkait saham debutan menjadi penyebabnya.

Sepanjang tahun berjalan hingga Kamis (10/6/2021), ada 20 emiten baru yang melantai Bursa Efek Indonesia. Adapun, 16 di antaranya terkena ARA di hari pertama saham mereka diperdagangkan.

Sebagai gambaran, dua emiten paling anyar yakni PT Ladangbaja Murni Tbk. (LABA) dan PT Triniti Dinamik Tbk. (TRUE) kompak terkena ARA usai saham mereka resmi diperdagangkan di BEI hari ini.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali mengatakan pergerakan harga satu emiten terkena auto reject atas atau ARA umumnya disebabkan oleh adanya tekanan beli yang lebih tinggi dibandingkan tekanan jual.

“Kemungkinan besar karena investor yang membeli saat IPO tidak langsung menjual sahamnya, sehingga terjadi tekanan beli,” kata Frederik kepada Bisnis, Kamis (10/6/2021).

Dia menambahkan, fenomena ini juga terpicu adanya kebebasan auto reject batas atas setelah IPO yang bisa mencapai 35 persen. Alhasil, investor yang berhasil membeli saham IPO tidak buru-buru melepas kembali sahamnya.

Dia mengatakan, saat momentum IPO, kerap terjadi euforia di kalangan investor untuk membeli saham debutan karena harga rata-rata di pasar belum tercipta sehingga terdapat peluang keuntungan.

Senada, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengamini bahwa memang ada pola pikir di kalangan investor bahwa saham yang baru listing akan memberikan return yang lebih tinggi sehingga mereka berebut melakukan pemesanan.

“Untuk dapat saham IPO itu kan harus memesan dan itu terbatas, jadi waktu due diligence pasti ada yang nggak kebagian. Ini nanti ramai dikejar di pasar sekunder. Makanya ARA,” kata Reza kepada Bisnis, Kamis (10/6/2021).

Menurutnya, kenaikan yang terjadi di beberapa hari pertama saham IPO biasanya murni karena mekanisme pasar akibat perburuan saham debutan dan tidak mempertimbangkan kondisi fundamental perusahaan terkait.

Dia menyangsikan mayoritas investor telah membaca prospektus IPO suatu emiten sehingga berniat membeli sahamnya. Akan tetapi, berbeda jika orientasi investor membeli suatu saham IPO memang ingin menjadi bagian dari perusahaan tersebut.

“Kemungkinan pelaku pasar tidak serta merta mempelajari emiten itu. Apa iya semua investor ada waktu membaca prospektus yang ratusan lembar itu? Jadi dikhawatirkan mereka belum sepenuhnya memahami hanya tau info sekilas-sekilas lalu beli,” ujarnya lagi.

Di luar hal itu, Reza menilai tren ARA pada saham-saham debutan bukan merupakan hal negatif. Namun dia menyebut investor terutama segmen ritel perlu sangat berhati-hati untuk masuk dalam saham IPO karena rentan terjebak pada volatilitas harga.

“Contohnya saham LUCY yang ARA di awal perdagangan, tapi kemudian terus merosot bawah harga IPO nya bahkan sempat di bawah Rp50 per saham. Sekarang pun masih 50an,” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bei ipo
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top