Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Faktor Covid-19 Masih Mendominasi Emiten RS, Bagaimana Rekomendasi Hermina (HEAL)?

Saham emiten rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) diperkirakan masih prospektif pada 2021 di tengah pandemi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 20 Mei 2021  |  09:34 WIB
RS Hermina Kemayoran. - herminahospital.com
RS Hermina Kemayoran. - herminahospital.com

Bisnis.com, JAKARTA - Faktor Covid-19 masih mendominasi sektor kesehatan terutama emiten rumah sakit seperti PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL). Rekomendasi sahamnya pun masih menarik berdasarkan konsensus analis.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengungkapkan faktor pandemi mulai menurun pada April 2021. Kendati demikian, aktivitas mudik Lebaran dapat meningkatkan kasus Covid-19.

Pada April 2021, jumlah tes PCR yang dilakukan di Jakarta turun dari 346.000 pada Maret menjadi 285.000. Secara tahun berjalan (ytd), tes PCR yang dilakukan di Jakarta berjumlah 1,6 juta.

Demikian pula, jumlah rata-rata tes PCR mingguan di Jakarta turun menjadi 71.000 pada April, sementara pada Maret 2021 sebanyak 86.000.

"Pada 2021, kami memperkirakan 4 juta tes PCR akan dilakukan di Jakarta. Kasus positif di Jakarta pada bulan April berjumlah 26.000 turun 42.000 pada Maret 2021," ungkapnya dalam riset yang dikutip Rabu (19/5/2021).

Seiring dengan rendahnya angka kasus positif, angka positif ytd dari tes PCR di Jakarta merosot dari 15,3 persen pada 31 Maret menjadi 14,2 persen.

Tingkat positif YTD dari tes rapid antigen juga menyusut dari 4,4 persen pada 31 Maret menjadi 3,2 persen.

"Kami saat ini mempertahankan perkiraan kami untuk tingkat positif Covid-19 sebesar 10 persen pada tahun 2021, yang berarti menjadi 400.000 kasus positif," jelasnya.

Di sisi lain, tidak ada perubahan signifikan pada tingkat kematian dan kesembuhan Covid-19. Tingkat kematian di Jakarta berkisar antara 1,6 persen-1,7 persen pada April 2021. Tingkat pemulihan mencapai 96,7 persen pada 30 April 2021, sementara pada 31 Maret sebesar 96,6 persen.

Pada 30 April, sebanyak 12,7 juta telah menerima suntikan vaksinasi pertama dan 8 juta orang telah menerima suntikan kedua, meningkat dari posisi akhir Maret 2021 sebanyak 8,5 juta orang sudah disuntik pertama dan 3,9 juta orang sudah mendapatkan suntikan kedua.

Pada periode yang sama, pemerintah Jakarta melakukannya memberikan suntikan vaksinasi 2 juta suntikan pertama dan 1,3 juta suntikan kedua.

"Jumlah tersebut jauh di bawah target pemerintah yaitu 40,3 juta atau 3 juta di Jakarta untuk vaksin pada akhir April atau gelombang pertama, yang dapat dikaitkan dengan lambatnya kemajuan vaksinasi untuk lansia," urainya.

Hingga 1 Mei 2021, Indonesia telah menerima 74,5 juta vaksin dalam bentuk curah dan siap pakai. Sebagai untuk program vaksinasi Gotong Royong, Indonesia telah menerima vaksin Sinopharm 982.000 dosis.

Jumlah pasien yang dirawat di Jakarta sedikit menurun dari 3.679 pada 31 Maret menjadi 3.527 pada 30 April.

Tingkat hunian rawat inap Covid-19 di Jakarta berkisar pada 45-50% pada 30 April, yaitu tidak berubah dibandingkan tingkat hunian pada 31 Maret.

"Terlepas dari tren penurunan kasus baru, kita patut mewaspadai eksodus massal Ramadan terlepas dari larangan pemerintah yang telah berlaku sejak 6 Mei dan akan berlangsung hingga 17 Mei," katanya.

Survei dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa sekitar 7 persen dari total penduduk Indonesia yaitu 18 juta orang akan tetap melakukan perjalanan ke kampung halaman mereka.

Namun demikian, Mirae yakin larangan perjalanan mudik akan membantu mengurangi penyebaran virus. Ini mengatakan, jumlah kasus positif pada kuartal II/2021 mungkin tidak berada di atas angka kuartal I/2021 yaitu 195.000.

"Selanjutnya, kita harus berhati-hati terhadap mutasi dan varian COVID-19, yaitu B117 [Inggris], B1351 [Afrika Selatan], dan B1617 [India], karena beberapa kasus di antaranya telah dilaporkan terjadi di beberapa kasus daerah di Indonesia," urainya.

Prospek sektor rumah sakit pada kuartal I/2021 masih akan mendapatkan keuntungan dari penanganan Covid-19 pada 2021.

"Tanpa ada hal yang merugikan Peraturan penanganan Covid-19 yang diberlakukan oleh pemerintah, pendapatan rumah sakit per hari rawat inap akan terus menjadi lebih tinggi dari biasanya pada tahun 2021. Oleh karena itu, kami mengulangi seruan overweight kami di sektor ini," katanya.

Dia merekomendasikan hold untuk saham HEAL dengan TP Rp4.800. Pada tahun penuh 2021, HEAL diperkirakan memiliki pertumbuhan EPS 25,2 persen dengan dividend yield 0,2, dengan rasio P/E 32,3 dan EV/EBITDA 12,2.

Adapun, berdasarkan konsensus Bloomberg, dari 12 analis 11 di antaranya merekomendasikan beli dan 1 merekomendasikan tahan atau hold.

Dengan posisi harga terakhir di level 4.830, harga sahamnya dalam 12 bulan ke depan diekspektasi mencapai 4.931 tanpa menghitung rencana stock split perseroan.

Potensial return saham HEAL mencapai 2,1 persen dan dengan adanya rencana stock split akan membantu meningkatkan harga sahamnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rumah sakit rekomendasi saham Medikaloka Hermina
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top