Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jumlah Investor Pasar Modal Indonesia Meningkat, Tapi Belum Ideal

Jumlah investor yang semakin besar akan memperkuat ketahanan pasar modal sekaligus menambah daya tariknya.
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah investor yang semakin besar dipercaya akan menambah daya tarik pasar modal Indonesia, baik di mata investor maupun para perusahaan yang akan melantai.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir April 2021, jumlah single investor identification (SID) pasar modal mencapai 5.088.093 investor. Realisasi tersebut tumbuh 31,11 persen dari posisi akhir 2020 lalu yang sebanyak 3.880.753 SID.

Pengamat Pasar Modal Edwin Sebayang menilai hal tersebut merupakan kabar yang positif bagi pasar modal Indonesia karena akhirnya kini dapat mengalami pertumbuhan yang signifikan setiap tahunnya.

“Dulu kita mau 1 juta aja lama banget, ini ada Covid [bisa tumbuh semakin pesat] jadi blessing in disguise,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama ini.

Akan tetapi, kata Edwin, jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia secara keseluruhan, jumlah investor pasar modal Indonesia saat ini masih terlalu kecil, yakni 5 juta dibandingkan total penduduk Indonesia per akhir 2020 yang sekitar 270,20 juta jiwa.

Dia mengatakan akan lebih ideal jika jumlah investor Indonesia setidaknya bisa mencapai sekitar 10 juta investor atau bisa mencakup hampir 5 persen dari total penduduk di Tanah Air.

“Kalau kita lihat negara-negara tetangga juga sudah lebih dari 10 persen. Target 10 juta atau menuju 5 persen itu tidak muluk-muluk, itu target yang konservatif. Bisa lah kita tumbuh segitu,” ujar Edwin yang juga merupakan Direktur PT MNC Asset Management. 

Dia mengatakan bahwa jumlah investor yang semakin besar akan memperkuat ketahanan pasar modal sekaligus menambah daya tariknya karena semakin banyak investor artinya ketersediaan dana pun semakin besar.

Alhasil, dari dalam negeri hal tersebut akan menarik minat para perusahaan yang mencari pendanaan dari pasar modal, baik melalui skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) maupun rights issue.

Edwin menuturkan dengan semakin banyak perusahaan yang masuk ke pasar modal akan mendongkrak kapitalisasi pasar dan sebagai efek domino selanjutnya akan menambah daya tarik bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia.

Edwin juga menyoroti kehadiran investor ritel, khususnya karakteristik investor yang cenderung memiliki pandangan investasi jangka pendek (short term view) sehingga membuat pasar bergerak lebih dinamis dan memiliki volatilitas tinggi.

Menurutnya, volatilitas tak harus selalu dipandang sebagai hal yang mengancam karena dinamika pasar sebenarnya dibutuhkan oleh para emiten, terutama mereka yang baru melantai di bursa.

“Banyak emiten yang butuh investor ritel. Kalau hanya ada investor institusi, itu nggak jalan saham mereka. Volatilitas itu bagus, bisa meningkatkan frekuensi trading, meningkatkan market cap. Jika market tidak bergerak itu membosankan menurut saya,” tutur Edwin.

Di sisi lain, dia juga mengingatkan akan pentingnya edukasi bagi para investor baru ini, apalagi kini pasar modal didominasi oleh investor berusia muda, termasuk dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Dia menilai edukasi mengenai pasar modal perlu berjalan secara parallel dengan bertambahnya jumlah investor domestik. Pun, para stakeholder mulai dari BEI, OJK, hingga anggota bursa pun perlu bekerja sama untuk menciptakan iklim investasi yang sehat.

Sebelumnya, pada pertengahan Maret lalu OJK dan BEI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya, yakni PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) meluncurkan sejumlah terobosan baru inovasi edukasi digital terkait pasar modal.

Terobosan baru tersebut ada 4, terdiri dari IDX Virtual Tour 360, Halaman Edukasi Investasi di Website BEI dan Modul Sekolah Pasar Modal Digital, Kompetisi Galeri Investasi BEI: IDX GI-a-thon, serta konsep Galeri Investasi Edukasi BEI dan Galeri Investasi Digital BEI.

“Terobosan tersebut merupakan respon atas masifnya pertumbuhan investor baru pada awal tahun 2021 ini yang melanjutkan tren positif tahun 2020, tahun kebangkitan investor ritel dalam negeri,” tutur Direktur Utama BEI Inarno Djajadi, kala itu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper