Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Reli Harga Jagung Dapat Berlanjut, Apa Sebabnya?

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memaparkan, lonjakan harga jagung yang saat ini terjadi mengikuti tren pergerakan harga minyak dunia. Komoditas jagung merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan bahan bakar alternatif, yakni bioetanol.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 April 2021  |  20:05 WIB
Ilustrasi jagung
Ilustrasi jagung

Bisnis.com, JAKARTA – Ketimpangan antara permintaan dan pasokan menjadi katalis utama lonjakan harga jagung ke level tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Potensi kelanjutan reli masih terbuka seiring dengan prospek pelemahan indeks dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (22/4/2021), harga jagung pada Chicago Board of Trade (CBOT) terpantau naik 1,77 persen ke US$6,17 per bushel. Level tersebut telah melewati puncak harga tertinggi sejak Mei 2013 lalu pada kisaran US$6,0875 per bushel.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memaparkan, lonjakan harga jagung yang saat ini terjadi mengikuti tren pergerakan harga minyak dunia. Komoditas jagung merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan bahan bakar alternatif, yakni bioetanol.

Selain itu, harga jagung turut menguat berkat sentimen impor yang akan dilakukan China. Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan ekonomi China yang positif pada kuartal I/2021 mengindikasikan kegiatan ekonomi yang berjalan dengan baik.

Impor jagung tersebut, lanjutnya, dilakukan guna memenuhi kebutuhan pakan ternak babi di China setelah dilanda wabah flu babi Afrika. China juga merupakan importir jagung nomor 1 di dunia saat ini.

Di sisi lain, lonjakan permintaan tidak dibarengi dengan kenaikan produksi pada negara-negara penghasil jagung. Ia menuturkan, saat ini wilayah AS baru memasuki musim tanam dan terhambat oleh prospek cuaca dingin dalam beberapa waktu mendatang.

“Sementara itu, kurangnya curah hujan untuk tanaman jagung di Brasil akan menghambat proses pertumbuhan serta panennya,” jelasnya saat dihubungi pada Kamis (22/4/2021).

Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan, penguatan harga jagung turut didukung oleh pelemahan dolar AS. Hal ini menyusul pernyataan bank sentral Eropa yang akan tetap melanjutkan program pembelian obligasinya.

Ke depannya, Ibrahim menuturkan peluang kelanjutan reli harga jagung masih amat terbuka. Menurutnya, kenaikan harga jagung akan ditopang oleh pelemahan berkelanjutan dolar AS menyusul paket stimulus sebesar US$2 triliun yang diajukan Presiden AS, Joe Biden.

“Secara teknikal, pergerakan harga jagung telah melampaui level yang wajar. Tetapi, saat ini kondisi pasarnya memang demikian,” ujar Ibrahim.

Ibrahim memperkirakan, harga jagung dapat mencapai kisaran tertinggi pada US$6,50 per bushel hingga akhir semester I/2021.

Sementara itu, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan kenaikan harga jagung ditopang oleh tren serupa pada komoditas sejenis seperti biji kedelai. Penguatan harga jagung telah berlangsung sejak tahun lalu seiring dengan impor yang dilakukan China

Ia memaparkan, kenaikan impor China pada tahun ini semakin memperkuat permintaan jagung di pasar global. Hal tersebut terjadi ditengah penurunan cadangan jagung di AS.

“Sejak September 2020 lalu, harga jagung belum pernah terkoreksi secara bulanan, selalu di zona hijau,” katanya.

Wahyu menuturkan, harga jagung akan bergerak pada rentang US$5 per bushel hingga US$7 per bushel pada kuartal II/2021. Sementara itu, sepanjang tahun 2021, harga jagung diproyeksikan pada kisaran US$4 per bushel hingga US$9 per bushel.

Analis Komoditas Teknikal Reuters Wang Tao menyebutkan, harga jagung kemungkinan akan menguji level resistance pada US$6,42 per bushel. Tren ini diprediksi akan berlangsung dalam satu hingga dua pekan kedepan.

“Apabila menembus resistance, maka harga jagung dapat mencapai posisi US$7,21 per bushel,” jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas jagung harga jagung harga komoditas
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top