Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Impor China dan Rendahnya Panen, Harga Jagung Tembus Level Tertinggi dalam 8 Tahun

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (22/4/2021), harga jagung pada Chicago Board of Trade (CBOT) terpantau naik 1,77 persen ke US$6,17 per bushel. Level tersebut telah melewati puncak harga tertinggi sejak Mei 2013 lalu pada kisaran US$6,0875 per bushel.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 April 2021  |  18:36 WIB
Harga jagung naik menyentuh level tertinggi dalam delapan tahun. (Bloomberg)
Harga jagung naik menyentuh level tertinggi dalam delapan tahun. (Bloomberg)

Bisnis.com, JAKARTA – Harga jagung menembus level US$6 per bushel ke posisi tertingginya dalam 8 tahun seiring dengan prospek impor dalam jumlah besar yang akan dilakukan China.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (22/4/2021), harga jagung pada Chicago Board of Trade (CBOT) terpantau naik 1,77 persen ke US$6,17 per bushel. Level tersebut telah melewati puncak harga tertinggi sejak Mei 2013 lalu pada kisaran US$6,0875 per bushel.

Sentimen utama yang mendorong lonjakan harga jagung adalah prospek impor yang akan dilakukan China. Laporan dari Kementerian Pertanian AS menyebutkan, China akan melakukan impor jagung dalam jumlah besar guna memenuhi kebutuhan dalam negeri seiring dengan kelangkaan komoditas itu di Negeri Panda.

“Impor tersebut dibutuhkan untuk mengisi kembali produksi ternak China yang dilanda wabah flu babi Afrika,” demikian kutipan laporan tersebut.

Kementerian Pertanian AS memprediksi, total impor jagung yang akan dilakukan China pada tahun ini akan mencapai 28 juta metrik ton. Jumlah tersebut akan menjadi total impor terbesar dalam enam dekade terakhir berdasarkan catatan Bloomberg.

Di sisi lain, AS juga memproyeksikan penurunan impor jagung dari China pada tahun depan menjadi 15 juta metrik ton. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah China mengurangi ketergantungan terhadap komoditas agrikultur impor.

“Meski angkanya akan terpangkas, impor tersebut masih akan menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah,” demikian kutipan laporan Kementerian Pertanian AS.

Terkait hal tersebut, Chief Strategist Allendale Inc., Rich Nelson menuturkan, proyeksi impor yang dikeluarkan Kementerian Pertanian AS adalah angka yang konservatif. Nelson memperkirakan nilai impor tersebut akan direvisi lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Nelson melanjutkan, proyeksi dari AS mengindikasikan lonjakan permintaan ditengah keterbatasan pasokan jagung dari AS. Hal tersebut juga ditambah dengan kekhawatiran pasar terkait kondisi tanaman jagung di Brasil. “Mayoritas impor yang akan dilakukan China kemungkinan berasal dari produksi jagung AS,” jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Agrikultur China memprediksi angka impor jagung pada tahun ini pada level 20 juta ton. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan impor pada tahun lalu sebanyak 11,3 juta ton.

Meski demikian, kenaikan produksi jagung dalam negeri dinilai akan mampu menekan angka impor hingga tahun 2025 mendatang. Pemerintah China memperkirakan jumlah impor jagung akan menurun menjadi 5,2 juta ton pada 2025.

“Dengan penambahan area produksi, celah pasokan yang ada akan mulai menyempit dan jumlah pembelian akan menurun pada level yang sesuai dengan kuota impor,” demikian pernyataan Kementerian Agrikultur China dari laporannya.

Di sisi lain, lonjakan harga jagung juga ditopang oleh kekhawatiran pasar akan tertundanya proses penanaman jagung di AS serta cuaca kering di Brasil.

Laporan dari National Weather Service AS menyebutkan, wilayah Amerika Serikat Barat Tengah (Midwest) dan dataran di AS masih akan mengalami cuaca dingin dalam beberapa waktu kedepan.

“Tren upward pada harga jagung utamanya didorong oleh risiko cuaca pada wilayan penanaman di Benua Amerika,” jelas laporan dari Agritel.

Data Kementerian Pertanian AS menyebutkan, hingga pekan lalu, progres penanaman jagung di AS telah mencapai 8 persen dari keseluruhan area penanaman. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar 6 persen.

Sementara itu, data dari Maxar melaporkan, wilayah barat Brasil yang menjadi produsen utama tanaman jagung akan memasuki fase cuaca kering pada bulan depan. Hal ini akan membuat sejumlah lahan yang telah ditanami benih jagung tidak mendapatkan air yang cukup pada masa pertumbuhannya.

Laporan dari Analis MD Commodities, Pedro Dejneka menyebutkan, jumlah panen jagung di Brasil kemungkinan akan menurun seiring dengan cuaca kering yang dialami pada wilayah penanaman.

Dejneka memperkirakan jumlah panen jagung di Brasil adalah sebesar 72,5 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi Dejneka sebelumnya pada kisaran 78,1 juta ton.

“Minimnya curah hujan kemungkinan akan mengurangi hasil panen pada beberapa wilayah seperti Mato Grosso do Sul, Goias, Minas Gerais, dan Sao Paulo,” ujarnya.

Di sisi lain, Analis Futures International LLC Terry Reilly menuturkan, kenaikan harga jagung lebih disebabkan oleh aliran dana yang masuk pada komoditas ini. Selain itu, pelaku pasar juga semakin khawatir terhadap penurunan pasokan seiring dengan pemangkasan proyeksi panen jagung di Brasil.

“Sentimen cuaca belum diperhitungkan oleh para pelaku pasar sampai beberapa pekan yang lalu,” ujar Reilly.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas china harga jagung
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top