Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Anjlok di Sesi I, Seluruh Indeks Sektoral Keok

IHSG melemah 1,34 persen atau 81,15 poin menjadi 5.989,06 pada akhir sesi I. Sebanyak 139 saham melemah, 348 saham melemah, sedangkan 233 saham lainnya stagnan.
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (22/3/2021). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Seluruh indeks sektoral melemah dan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Senin (12/4/2021).

Pada akhir sesi I, IHSG ditutup melemah 1,34 persen atau 81,15 poin menjadi 5.989,06. Sepanjang sesi I, indeks bergerak di rentang 5.987,92-6.088,83.

Seluruh 11 indeks sektoral dalam klasifikasi IDX-IC melemah dan menekan pergerakan IHSG, dipimpin oleh sektor industri (IDXINDUST) yang terkoreksi 2,67 persen dan properti (IDXPROPERT) yang melemah 2,52 persen.

Menyusul kedua sektor di atas, sektor energi melemah 2,48 persen, disusul sektor barang konsumer primer (IDXCYCLIC) yang terkoreksi 1,55 persen.

Sementara itu, 139 saham melemah, 348 saham melemah, sedangkan 233 saham lainnya stagnan pada akhir sesi I. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi penekan utama IHSG dengan pelemahan 2,76 persen ke Rp4.230, disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi 1,21 persen ke Rp30.625 per saham.

Equity Research Analyst PT Erdikha Elit Sekuritas Regina Fawziah menyampaikan pada sesi I, transaksi saham mencapai Rp5,28 triliun. Investor asing melakukan aksi jual bersih Rp37,01 miliar.

"Ada beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan IHSG baik dari domestik maupun eksternal," paparnya dalam publikasi riset, Senin (12/4/2021).

Dari dalam negeri, akhir pekan lalu telah rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan juga Cadangan Devisa (Cadev) selama bulan Maret, dimana untuk IKK mengalami kenaikan dari sebelumnya 85,8 menjadi 93,4.

Namun demikian, angka tersebut masih di bawah 100 atau yang berarti masyarakat masih belum sepenuhnya optimistis dengan pertumbuhan ekonomi yang ada selama enam bulan ke depan.

Adapun, Cadangan Devisa Indonesia mengalami penurunan dari sebelumnya US$138,8  miliar, kini menjadi US$137,1 miliar. Penurunan tersebut terjadi karena adanya pembayaran utang pemerintah yang jatuh tempo.

Rilis data mengenai penjualan ritel Indonesia pagi tadi jam 10.00WIB mengalami pelemahan dibandingkan sebelumnya -16,4 persen pada bulan Januari menjadi -18,1 persen pada Februari 2021.

Pelemahan ini terjadi sudah 15 bulan berturut-turt sejak awal tahun 2020. Penyebab turunnya angka penjualan ritel ini juga tak lepas dari adanya dampak penyebaran virus Covid-19 yang melanda Indonesia dan hampir seluruh negara di dunia, yang membuat masyarakat cenderung menahan belanja, sehingga penjualan ritel mengalami penurunan.

Dari ekternal, China akan merilis data mengenai neraca perdagangan pekan ini, kemudian dari Amerika Serikat akan rilis data inflasi Maret 2021. Angka inflasi di AS diperkirakaan akan mengalami kenaikan dari sebelumnya.

Apabila angka inflasi naik, hal tersebut akan mendorong Yield obligasi US tenor 10 tahun. Korelasi pergerakan antara yield obligasi dengan inflasi yaitu positif atau bergerak searah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper