Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Baru IPO Seringkali Melejit Harganya, Apa Ya Penyebabnya?

Kenaikan harga saham emiten-emiten fresh ini merupakan hal yang lumrah di bursa saham. Terutama karena adanya permintaan yang tinggi.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  18:58 WIB
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Sebanyak 11 emiten resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang kuartal I/2021. Fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG) tidak serta merta mempengaruhi kinerja saham-saham bau kencur tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, Rabu (31/3/2021), dua emiten yang baru melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) yakni PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) dan PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk. (BANK) mencatatkan kenaikan harga saham di atas 20 kali lipat, masing-masing 2405,95 persen dan 2472,82 persen.

Selain itu, emiten lainnya seperti UFOE mencatatkan kenaikan harga saham hingga 494,06 persen, menyusul ada DGNS yang naik 237,4 persen, dan SNLK yang naik 109,33 persen.

Analis Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami Nasr menuturkan kenaikan harga saham emiten-emiten fresh ini merupakan hal yang lumrah di bursa saham. Pasalnya, banyak terjadi insiden saham yang langsung terkena auto reject atas (ARA).

"Pergerakannya cenderung karena faktor lain selain fundamental saat ini, pertama mungkin karena permintaan yang tinggi sedangkan suplai sahamnya sedikit atau bisa jadi hanya dikuasai beberapa pihak saja," urainya kepada Bisnis, Rabu (31/3/2021).

Kedua, seiring spekulasi para pelaku pasar mengenai digitalisasi yang sedang menjadi tema utama akhir-akhir ini sehingga membuat saham-saham perbankan dan emiten teknologi yang berkecimpung terkait digital menjadi sasaran pelaku pasar.

Di sisi lain, dia mengungkapkan belum memiliki rekomendasi saham atas 11 saham yang baru saja IPO pada kuartal I/2021. Pasalnya, secara fundamental belum terjadi perubahan signifikan, sementara secara teknikal belum terbentuk histori pergerakan sahamnya.

"Kebanyakan juga belum banyak histori candlestick-nya dan kadang volume belum konsisten. Dengan demikian, agak sulit memperkirakan pergerakannya secara teknikal," urainya.

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menuturkan saham-saham emiten yang baru IPO masih menjadi incaran investor ritel untuk alternatif aktivitas trading.

"Saat ini investor ritel akan mulai sibuk mencari alternatif saham untuk trading, salah satunya saham-saham IPO yang punya kebiasaan naik di beberapa hari pertama," katanya.

Tren masuknya investor ritel terhadap saham-saham yang baru saja IPO tersebut diperkirakan masih akan terus berlanjut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bei ipo Kinerja Saham
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top