Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masih Memanas! Kembali Ke Level 4.000 Setelah Anjlok, Ini Prospek Harga CPO

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rebound harga CPO salah satunya ditopang oleh kenaikan harga yang juga terjadi pada komoditas substitusinya, yakni biji kedelai. Naiknya harga biji kedelai umumnya akan berdampak pada menguatnya harga CPO.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  18:34 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Penguatan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada pekan ini diprediksi dapat berlangsung hingga akhir semester I/2021.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, rebound harga CPO salah satunya ditopang oleh kenaikan harga yang juga terjadi pada komoditas substitusinya, yakni biji kedelai. Naiknya harga biji kedelai umumnya akan berdampak pada menguatnya harga CPO.

Selain itu, penyebaran virus corona yang masih terjadi juga turut berperan dalam mengerek naik harga CPO. Penyebaran ini membuat sejumlah negara masih memberlakukan kebijakan lockdown yang memicu kenaikan permintaan terhadap minyak kelapa sawit.

Di sisi lain, siklus cuaca La Nina yang dialami oleh negara produsen CPO, seperti Indonesia dan Malaysia, menyebabkan terganggunya proses panen dan distribusi. Hal ini membuat pasokan CPO sedikit tersendat. 

Hal ini juga ditambah dengan kebijakan pembatasan pergerakan yang dilakukan Indonesia dan Malaysia yang akan menghambat proses panen sawit, terutama untuk Malaysia yang amat bergantung pada tenaga kerja asing.

“Pembatasan ini jelas akan mempengaruhi output CPO dalam beberapa waktu,” katanya saat dihubungi pada Selasa (23/3/2021).

Ibrahim memperkirakan, harga minyak kelapa sawit dapat melanjutkan penguatan setidaknya hingga paruh pertama tahun ini. Hal tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah Indonesia yang akan kembali menggalakkan program bahan bakar biodiesel.

“Harga CPO bisa saja menembus 4.200 ringgit per ton pada semester I/2021, karena level 4.000 ringgit per ton sudah tercapai,” lanjutnya.

Sementara itu, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menuturkan, koreksi harga CPO yang terjadi pada pekan lalu terbilang wajar mengingat levelnya yang sudah tinggi.

Wahyu mengatakan, selain kenaikan permintaan jelang Ramadan, pergerakan harga minyak mentah yang masih cenderung positif juga menjadi penopang rebound harga CPO. Ia memaparkan, harga minyak yang terjaga membuat penggunaan biodiesel menjadi lebih kompetitif seiring dengan pergeseran tren kebijakan bauran energi yang lebih ramah lingkungan.

“Dengan kenaikan harga minyak, harga CPO yang menjadi substitusi juga akan terdongkrak naik,” jelasnya.

Wahyu mengatakan, peluang penguatan harga CPO kedepannya masih terbuka. Salah satu katalis positif penopang harga komoditas ini adalah upaya PT Pertamina yang telah menguji produksi green diesel menggunakan Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO).

PT Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah 3 ribu barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember mendatang. Selanjutnya, PT Pertamina akan mengolah 6 ribu barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022.

Wahyu memprediksi, level harga 4.000 ringgit per ton masih akan terus diuji dalam jangka pendek. Pada kuartal I/2021, harga CPO diproyeksikan pada kisaran 3.500 hingga 4.100 ringgit per ton.

“Peluang menguji harga diatas level tersebut juga masih terbuka, dengan proyeksi sepanjang 2021 di level 3.000 sampai 4.500 ringgit per ton,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo minyak sawit kelapa sawit harga cpo
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top