Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yield Obligasi Indonesia Jadi Momentum Positif Untuk Lelang SUN

Tingginya imbal hasil surat utang Indonesia akan dimanfaatkan oleh para investor untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 28 Februari 2021  |  17:09 WIB
Memantau layar surat utang negara - Bisnis
Memantau layar surat utang negara - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Indonesia terjadi dalam beberapa waktu terakhir, berpotensi menjadi momentum positif untuk para investor kembali masuk ke pasar surat utang melalui lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (2/3/2021) mendatang.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana optimistis hasil lelang SUN pekan depan akan lebih baik dibandingkan dengan capaian 2 pekan yang lalu. Dia memprediksi pemerintah dapat menghimpun penawaran sekitar Rp80 triliun.

“Meliha kondisi saat ini, kami perkirakan angka penwaran yang masuk pada lelang besok berada di kisaran Rp80 triliun – Rp90 triliun,” ujar Fikri saat dihubungi pada Minggu (27/2/2021).

Fikri menuturkan, salah satu sentimen yang akan mempengaruhi hasil lelang surat utang pekan depan adalah naiknya imbal hasil obligasi AS (US Treasury).

Dia memaparkan, kenaikan yield US Treasury ke level 1,5 persen di satu sisi akan menimbulkan kekhawatiran dari para pelaku pasar. Selain itu, mereka juga akan cenderung lebih memperhatikan pergerakan imbal hasil ini karena akan mendatangkan return yang lebih optimal.

“Selain itu, kenaikan imbal hasil US Treasury akan melemahkan posisi surat utang emerging market, seperti Indonesia. Sehingga, investor berpotensi lebih banyak masuk ke AS,” jelasnya.

Pelemahan posisi surat utang Indonesia terlihat dari kenaikan yield obligasi domestik dengan tenor 10 tahun. Data dari laman World Government Bonds mencatat, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun adalah sebesar 6,671 persen.

Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 37,2 basis poin selama sebulan belakangan. Yield obligasi Indonesia sempat mencapai kisaran 6,718 pada 22 Februari lalu.

Di sisi lain, Fikri menilai tingginya imbal hasil surat utang Indonesia justru akan dimanfaatkan oleh para investor untuk masuk ke pasar obligasi Indonesia. Hal tersebut dilakukan guna meraih yield maksimal untuk investasinya.

“Sejauh ini minat investor terhadap pasar obligasi Indonesia juga terbilang masih bagus. Dengan yield yang sedang tinggi seperti sekarang, mereka dapat memaksimalkan return-nya,” paparnya.

Lebih lanjut, minat investor terhadap obligasi Indonesia juga didukung kondisi fundamental ekonomi yang terbilang stabil. Hal tersebut terlihat dari sejumlah indikator, salah satunya adalah nilai rupiah yang tetap stabil.

Selain itu, dukungan kebijakan moneter yang longgar dari Bank Indonesia (BI) juga kian meningkatkan kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Menurutnya, keputusan BI yang kembali menurunkan suku bunga acuan akan direspons positif oleh para investor pada lelang pekan depan.

“Ini menandakan BI masih akan tetap mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang akomodatif untuk mendukung ekonomi domestik,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi surat utang negara Obligasi Pemerintah
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top