Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dikeroyok Sentimen Negatif, IHSG Anjlok Nyaris 2 Persen

Perpanjangan masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat dan kasus Covid-19 di Tanah Air yang mencapai 1 juga, di antaranya, menekan pergerakan indeks hari ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Januari 2021  |  15:16 WIB
Karyawan beraktivitas didepan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (30/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan beraktivitas didepan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (30/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan menutup perdagangan Selasa (26/1/2021) di zona merah. Pelemahan ini telah terjadi selama 3 hari berturut-turut.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) parkir di level 6.140,171 terkoreksi 1,89 persen. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di kisaran 6.123 hingga 6.269,66.

Dari keseluruhan konstituen, sebanyak 94 saham berhasil menguat, 395 saham melemah, dan 138 saham berada di posisi yang sama pada perdagangan sebelumnya.

Saham BUMN menghiasi jajaran top losers IHSG, seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (AGRO) yang terkoreksi 6,98 persen, disusul saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang turun 6,97 persen, dan saham PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) yang melemah 6,94 persen.

Kendati demikian, investor asing masih mencatatkan transaksi net buy atau beli bersih sebesar Rp286,67 miliar. Sasaran utama aksi beli itu tertuju terhadap saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) sebesar Rp301,2 miliar dan saham PT Bank Rakya Indonesia Tbk. (BBRI) senilai Rp83,8 miliar.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa IHSG saat ini dikelilingi sentimen negatif sehingga wajar pelemahan indeks tidak terbendung.

Dia menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah untuk memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah Jawa-Bali telah memberatkan laju pergerakan IHSG.

Belum lagi, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di tanah air yang dipastikan menembus 1 juta merupakan sentimen negatif bagi pasar sehingga penurunan indeks juga semakin tidak tertahan.

“Selain itu, kebijakan politik luar negeri Presiden AS Joe Biden yang lebih tegas terhadap China membuat pasar khawatir bahwa hal tersebut bisa berpengaruh terhadap hubungan perdagangan di antara kedua negara memanas,” ujar Nafan kepada Bisnis, Selasa (26/1/2021).

Padahal, hasil perilisan investasi langsung asing (PMA) Indonesia untuk kuartal IV/2020 yang berhasil di atas ekspektasi merupakan katalis positif bagi IHSG yang dapat membantu indeks menguat.

Untuk diketahui, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi di kuartal IV/2020 mencapai Rp214,7 triliun atau tumbuh 3 persen year on year (yoy).

Dari catatan BKPM, PMA tumbuh Rp111,1 triliun atau 51,7 persen dari total investasi 2020. Angka ini naik 5,5 persen (yoy) dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, PMDN tercatat tumbuh 0,7 persen (yoy) menjadi Rp103,6 triliun.

Di sisi lain, pasar juga tengah menanti hasil rapat perdana The Fed untuk tahun ini yang dijadwalkan diselenggarakan pada pekan ini. Pasar menanti komentar Ketua The Fed Jerome Powell terkait arah kebijakan moneternya tahun ini.

Adapun, Nafan memprediksi IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Rabu (27/1/2021) dan bergerak di kisaran 6.064,55 - 6.195,15.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top