Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Intip Rencana 2 Emiten Indeks ESG, TBIG dan CTRA pada 2021

Indeks IDX ESG Leaders adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki penilaian Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang baik.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 24 Januari 2021  |  15:23 WIB
Karyawan memotret layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/11/2020). Bisnis - Abdurachman
Karyawan memotret layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di main hall Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/11/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah emiten konstituen IDX ESG masih berupaya ekspansif pada 2021. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) masih ekspansi menara, sementara PT Ciputra Development Tbk.(CTRA) menyiapkan penerbitan medium term notes (MTN).

Pada penutupan perdagangan Jumat (22/1/2021) IDX ESG Leader ditutup melemah 2,03 persen ke level 147,067. Adapun, secara year to date (ytd) indeks telah masih menguat 3,62 persen.

Kinerjanya di atas indeks komposit pada penutupan perdagangan Jumat (22/1/2021) turun 1,66 persen ke level 6.307,13 yang secara ytd menguat 3,31 persen.

Indeks IDX ESG Leaders adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki penilaian Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang baik dan tidak terlibat pada kontroversi secara signifikan serta memiliki likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. Penilaian ESG dan analisis kontroversi dilakukan oleh Sustainalytics.

Direktur Keuangan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) Helmy Yusman Santoso menuturkan rencana bisnis perseroan pada 2021 yakni terus mengembangkan menara, baik menara organik maupun anorganik.

"Untuk pertumbuhan organik kami menargetkan untuk menambah 3.000 tenan, sedangkan untuk anorganik melalui akuisisi kami sedang berusaha untuk merampungkan pembelian tower kami sebanyak 3.000 tower dari PT Inti Bangun Sarana," katanya kepada Bisnis, Minggu (24/1/2021).

Emiten menara milik Grup Saratoga tersebut bakal mengakuisisi 3.000 menara PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) dengan nilai transaksi Rp3.975 miliar atau Rp3,97 triliun.

Entitas Grup Saratoga milik Menparekraf Sandiaga Uno, melalui PT Wahana Anugerah Sejahtera dengan jumlah saham sebesar 34,23 persen dan PT Provident Capital Indonesia 25,52 persen. Adapun, Sandiaga Uno memegang 21,51 persen saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG).

Adapun, untuk pertumbuhan secara organik yakni melalui pembangunan menara baru dan kolokasi menara hingga 3.000 tenant, TBIG menyiapkan sekitar Rp2 triliun sebagai pos belanja modal alias capital expenditure untuk tahun buku 2021.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Ciputra Development Tulus Santoso menuturkan sebenarnya menghadapi 2021 masih sulit karena situasi pandemi Covid-19.

"Terkait rencana ini memang jadi sangat sulit dalam situasi pandemi yang belum jelas kapan berakhir, masih terlalu banyak variabel yang uncertainty. Jadi, sekarang ini kami lebih ke safety and conservative sambil monitor kondisi market tidak bisa agresif," ujarnya kepada Bisnis.

Namun, emiten berkode CTRA tersebut optimistis kinerja pada 2021 akan lebih baik daripada 2020, kendati belum memiliki kepastian seberapa besar peningkatan kinerjanya.

Emiten properti ini pun akan menerbitkan Medium-Terms Note (MTN) maksimal lebih dari Rp3 triliun pada tahun ini. Pihaknya akan menerbitkan MTN 2021 dengan nilai lebih dari 20 persen dari ekuitas. Namun nilai emisi MTN kurang dari 50 persen ekuitas perseroan untuk periode yang berakhir pada 30 September 2020.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, emiten dengan kode CTRA itu membukukan total ekuitas senilai Rp16,86 triliun. Dengan demikian, nilai MTN yang akan diterbitkan tersebut akan berada ada rentang Rp3,37 triliun — Rp8,43 triliun.

CTRA telah meningkatkan batas MTN yang dapat diterbitkan berdasarkan Programme Agreement menjadi 400 juta dolar Singapura dari sebelumnya 200 juta dolar Singapura.

Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia pada 20 Januari 2021, 1 dolar Singapura sama dengan Rp10.553. Dengan demikian batas 400 juta dolar Singapura setara dengan Rp4,22 triliun.

Namun, dari program itu, perseroan telah menerbitkan MTN senilai 150 juta dolar Singapura dengan suku bunga 4,85 persen pada 20 September 2017. MTN 2017 itu akan jatuh tempo pada 23 September 2021 dan MTN yang diterbitkan tahun ini (MTN 2021) akan digunakan untuk melunasi surat utang tersebut.

Pada perdagangan Jumat (22/1/2021), saham CTRA ditutup di zona merah turun 3,77 persen ke level 1.020, kemudian secara year to date (ytd) masih mengalami pertumbuhan persen 3,5 persen. Sementara, saham TBIG ditutup di zona merah turun 5,78 persen ke level 2.120, lalu secara ytd TBIG menguat hingga 30,06 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks ciputra tower bersama Kinerja Emiten ciputra development
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top