Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dihantui La Nina, Harga CPO Ngamuk Hingga Tembus Rekor 10 Tahun

Kenaikan harga CPO dipicu proyeksi pengurangan produksi akibat La Nina. Selain itu, harga CPO juga memanas karena harga komoditas kompetitor, kedelai juga ikut naik.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 04 Januari 2021  |  19:08 WIB
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO)  terus melanjutkan penguatannya pada perdagangan awal tahun 2021. Harga CPO saat ini sudah menembus level tertinggi sejak 2011.

Berdasarkan data dari laman Bursa Malaysia pada Senin (4/1/2021), harga minyak kelapa sawit masih menunjukkan tren kenaikannya yang terjadi sejak pekan lalu. Harga CPO untuk pengiriman Maret 2021 sempat mencapai level 3.600 ringgit per ton sebelum tiba pada settlement price 3.729 ringgit per ton atau naik 129 poin dari posisi pembukaan.

Sementara itu, harga CPO untuk pengiriman Februari 2021 sempat mencapai level 3.876 ringgit per ton sebelum tiba pada settlement price 3.764 ringgit per ton atau naik 112 poin dari posisi pembukaan.

Harga CPO di Bursa Malaysia bahkan mendekati level 4.000 ringgit per ton. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 12.30 WIB, harga CPO naik 1,34 persen ke level 3.934 ringgit per ton. Dalam enam bulan terakhir, harga CPO sudah naik 61,27 persen.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono menuturkan, tren kenaikan harga CPO sejalan dengan pergerakan sejumlah komoditas lainnya. Faktor kenaikan harga CPO tersebut salah satunya dipicu oleh ancaman penurunan panen akibat fenomena perubahan iklim La Nina yang melanda kawasan tropis pasifik.

Wahyu menjelaskan, La Nina memicu curah hujan tinggi hingga 40 persen di atas curah hujan normal. Berkaca pada kejadian sebelumnya, La Nina selalu diiringi dengan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor.

Ia mengatakan, hambatan tersebut akan membuat aktivitas panen menjadi terganggu dan merusak stok sawit yang ada. Selain itu, frekuensi hujan yang akan lebih tinggi berpotensi menghambat pengiriman minyak kelapa sawit dan menyebabkan kenaikan harga CPO.

Wahyu melanjutkan, pergerakan positif harga CPO selama ini juga terkait siklus bisnis komoditas ini. Wahyu menjelaskan, anjloknya permintaan di awal tahun terkait virus corona akan menekan produsen atau perusahaan penghasil CPO.

"Selain itu, kebijakan lockdown atau pembatasan kerja serta tekanan harga juga akan menekan produksi sehingga berimbas pada pasokan," jelasnya saat dihubungi pada Senin (4/1/2021).

Menurutnya, pergerakan harga CPO hingga kuartal I/2021 kemungkinan akan fluktuatif seiring dengan faktor fundamental komoditas ini yang cenderung tarik menarik.

Salah satu faktor fundamental yang mempengaruhi CPO adalah lonjakan harga yang dialami oleh komoditas kompetitor, yakni kacang kedelai. Ia menuturkan,  harga kacang kedelai juga tengah menguat seiring dengan antisipasi penurunan produksi minyak kelapa sawit dari Indonesia dan Malaysia.  

Di sisi lain, faktor global yang mempengaruhi harga CPO hingga saat ini masih cukup mendukung pergerakan harga.  Wahyu menjelaskan, saat ini The Federal Reserve (The Fed) menggunakan target rata-rata inflasi yang diperbolehkan melewati 2 persen tanpa harus mengubah kebijakannya.

Kebijakan tersebut, ujar Wahyu, sangat akomodatif dan dapat memicu pelemahan dolar AS serta menguatkan lawan dolar AS seperti mata uang lain dan komoditas seperti minyak kelapa sawit.

"Meski rentan koreksi, sementara ini harga CPO masih dalam uptrend. Pergerakan harga pada kuartal I/2021 kemungkinan di level 3.000 hingga 3.800 dengan potensi menguji area 3.500 -3.600 ringgit per ton," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cpo La Nina
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top