Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gimana Nih! Belum Tembus Rekor, Bitcoin Sudah Anjlok Lagi

Berdasarkan data Coindesk, cryptocurrency dengan valuasi terbesar ini anjlok 5,22 persen ke level US$17,793 pada puku l12.00 WIB, setelah sempat menyentuh level US$19.374 pada Rabu (25/11).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 November 2020  |  12:24 WIB
Bitcoin turun - Ilustrasi
Bitcoin turun - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Belum sempat mencatat rekor tertinggi barunya, harga Bitcoin anjlok pada hari Kamis (26/11/2020). Penurunan ini juga diikuti oleh mata uang digital lainnya.

Berdasarkan data Coindesk, cryptocurrency dengan valuasi terbesar ini anjlok 5,22 persen ke level US$17,793 pada puku l12.00 WIB, setelah sempat menyentuh level US$19.374 pada Rabu (25/11).

Bitcoin bahkan sempat anjlok hingga level US$17.284,88. Pelemahan Bitcoin juga diikuti, seperti Ethereum yang membukukan penurunan 8,84 persen dan Ripple yang anjlok 11,63 persen.

Meskipun alasan di balik anjloknya Bitcoin belum sepenuhnya jelas, aksi jual datang setelah CEO Coinbase Brian Armstrong menyuarakan keprihatinannya atas rumor rencana Departemen Keuangan AS untuk mencoba melacak pemilik wallet, atau tempat penyimpanan cryptocurrency yang di-hosting sendiri.

Penurunan tersebut menghapus kapitalisasi Bitcoin hingga US$950 juta di seluruh bursa utama, seperti yang dicatat oleh penyedia data derivatif Bybt.

Salah satu pendiri dan mitra pengelola di perusahaan investasi dan perdagangan blockchain yang berbasis di Hong Kong, Kenetic, Jehan Chu mengatakan penurunan Bitcoin ini menjadi salah satu ujian bagi investor baru.

“[Tes ini menguji] apakah mereka memiliki visi dan keinginan untuk benar-benar berinvestasi di Bitcoin dan masa depan keuangan digital atau akan mengulang 2018 dan keluar dari pasar,” ungkapnya, seperti dikutip Coindesk.

Sementara itu, kepala pengembangan bisnis bursa pertukaran cryptocurrency Luno, Vijay Ayyar, mengatakan Bitcoin mengalami kondisi overbought yang sangat masif dan sangat riskan terkoreksi.

“Jadi, sejujurnya, menurut saya itu tidak aneh. Saya masih yakin kita akan melihat titik tertinggi sepanjang masa sebelum penurunan/koreksi yang lebih besar," ungkap Ayyar, seperti dikutip Bloomberg.

Meskipun melemah sebelum mencapai rekor tertinggi di US$19.511 yang dicapai pada akhir 2017, Bitcoin telah melonjak lebih dari 500 persen tahun ini dari level terendahnya di US$3.867,09 pada 14 Maret 2020.

Orang-orang percaya yang percaya pada cryptocurrency mengatakan pembelian oleh investor ritel, institusi, dan bahkan miliarder, serta pencarian untuk lindung nilai terhadap pelemahan dolar, menjadi alasan alasan mengapa lonjakan Bitcoin bisa bertahan.

Di sisi lain, para pihak yang skeptis berpendapat bahwa volatilitas cryptocurrency ini menandakan terulangnya apa yang terjadi tiga tahun lalu, ketika booming asert digital berubah menjadi kehancuran yang masif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin cryptocurrency
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top