Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Diangkat Erick Thohir Jadi Dirkeu Garuda (GIAA), Ini Tugas Berat Prasetio

Direktur Keuangan Garuda Indonesia yang baru disebut punya setumpuk tugas berat, antara lain melakukan negosiasi dengan pihak lessor dan perbankan. Direktur keuangan juga menghadapi tantangan untuk melakukan restrukturisasi perusahaan, terutama dalam aspek finansial.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 20 November 2020  |  13:39 WIB
Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Prasetio - Antara
Direktur Keuangan Garuda Indonesia, Prasetio - Antara

Bisnis.com,JAKARTA — Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Prasetio memiliki setumpuk tugas yang harus segera diselesaikan.

Rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Garuda Indonesia yang berlangsung pada Jumat (20/11/2020) memutuskan pergantian kursi Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko dari Fuad Rizal kepada Prasetio. 

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan Prasetio memiliki banyak pengalaman mulai dari bankir hingga bidang hukum. Dia tercatat pernah mengisi posisi sebagai Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) hingga Direktur PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

“Pergantian direksi diharapkan meneruskan apa yang sudah sangat baik dilakukan sebelumnya dan yang kedua tentu bisa mempercepat rencana kami yang dikaitkan dengan restrukturisasi dan negosiasi maupun pengelolaan keuangan yang lebih baik,” ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (20/11/2020).

Irfan mengungkapkan sejumlah langkah yang telah dilakukan oleh Direktur Keuangan sebelumnya. Hal itu termasuk negosiasi dengan banyak pihak dan restrukturisasi yang sudah dilakukan.

“Kendati demikian, perlu difinalisasi jadi tentu saja tugas direktur keuangan yang baru tentu saja adalah memastikan itu terjadi dan sebelum akhir tahun bisa selesai. Ini mungkin juga tugas berat karena akhir tahun tinggal sebentar lagi,” paparnya.

Dia menambahkan saat ini negosiasi sedang banyak dilakukan dengan pihak lessor dan perbankan. Pihaknya berharap Prasetio dapat meneruskan dan mempercepat proses.

“Negosiasi jangan selalu dikaitkan dengan cuma semata-mata harga tetapi term and condition,” imbuhnya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2020, emiten berkode saham GIAA itu membukukan pendapatan dari penerbangan berjadwal US$917,28 juta per 30 September 2020. Realisasi itu menciut dari US$2,79 miliar periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, GIAA membukukan pendapatan US$1,13 miliar pada kuartal III/2020. Realisasi itu turun dari US$3,54 miliar pada 30 September 2019.

Seiring dengan penurunan pendapatan, GIAA membukukan rugi bersih US$1,07 miliar per 30 September 2020. Pencapaian maskapai milik negara itu berbalik dari laba bersih US$122,42 juta.

GIAA tercatat memiliki total liabilitas US$10,36 miliar per 30 September 2020. Nilai itu terdiri atas liabilitas jangka panjang US$5,66 miliar dan liabilitas jangka pendek US$4,69 miliar.

Ekuitas perusahan penerbangan badan usaha milik negara (BUMN) itu tercatat negatif US$455,57 juta. Dengan demikian, total liabilitas dan ekuitas senilai US$9,90 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top