Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dugaan Intervensi Pemilu AS, Bursa Asia Melemah

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (22/10/2020), indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup di zona merah setelah turun 0,29 persen. Koreksi terbesar di wilayah Asia terjadi pada indeks Topix Jepang yang anjlok 1,1 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 Oktober 2020  |  14:19 WIB
Exchange Square di Hong Kong. -  Justin Chin / Bloomberg
Exchange Square di Hong Kong. - Justin Chin / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham Asia ditutup terkoreksi menyusul dugaan terjadinya intervensi oleh Iran dan Rusia untuk memanipulasi hasil pemilu AS.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (22/10/2020), indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup di zona merah setelah turun 0,29 persen. Koreksi terbesar di wilayah Asia terjadi pada indeks Topix Jepang yang anjlok 1,1 persen.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan dan Shanghai Composite China juga melemah masing-masing sebesar 0,8 persen dan 0,6 persen.

Pergerakan perdagangan bursa Asia salah satunya ditopang oleh dugaan intervensi pemilihan umum presiden AS. Direktur National Intelligence John Ratcliffe mengatakan, Iran dan Rusia dinilai mencoba melakukan intervensi dalam proses pemilihan presiden di AS yang akan digelar pada 3 November mendatang.

“Kami telah mengkonfirmasi bahwa sejumlah data pendaftaran pemilih telah didapatkan oleh Iran dan Rusia. Data tersebut dapat digunakan oleh aktor-aktor asing untuk menyebarkan informasi palsu,” katanya.

Analis Saxo Capital Markets Eleanor Creagh mengatakan, pasar bereaksi negatif terhadap kabar intervensi pemilu AS seiring dengan minimnya kejelasan paket stimulus.

"Kemunculan dugaan intervensi ini menyebabkan kemungkinan kedua calon presiden untuk mempermasalahkan hasil akhir pemilihan semakin besar, utamanya setelah pemilihan ini akan berjalan lebih ketat dibandingkan hasil jajak pendapat yang ada," jelasnya.

Di sisi lain, stimulus AS masih menjadi perhatian para pelaku pasar pada perdagangan hari ini. Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengatakan dirinya berharap bakal ada belanja stimulus yang berlaku surut.

Hal itu disampaikannya kendati mayoritas anggota Partai Republik sudah memperingatkan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan “mahal” yang akan diajukan Demokrat sebelum Pemilu.

Pemerintah AS mengatakan bakal ada kesepakatan mengenai stimulus fiskal tersebut dalam 48 jam ke depan. Adapun, stimulus fiskal untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi itu diajukan senilai US$1,88 triliun atau di bawah US$2,2 triliun seperti yang diajukan Pelosi sebelumnya.

Di sisi lain, anggota Senat AS dari Partai Republikan mengatakan kesepakatan paket stimulus fiskal kemungkinan akan sulit tercapai sebelum pemilu presiden AS.

“Pakte stimulus kemungkinan tidak akan terjadi sebelum pemilu AS. Kami memperkirakan pemulihan akan berjalan dan dalam tiga hingga enam bulan ke depan sentimen-sentimen baru akan muncul. Hal tersebut akan membantu peningkatan pendapatan dari perusahaan-perusahaan ke depannya,” jelas Analis Welles Fargo Securities LLC, Anna Han.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top