Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Fluktuatif, Minat Investasi ke Reksa Dana Indeks Masih Tinggi

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan pengaruh fluktuasi indeks tentunya berpengaruh langsung terhadap kinerja reksa dana indeks dan ETF.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 20 Oktober 2020  |  18:36 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Momentum koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ternyata tak menyurutkan minat investor untuk berinvestasi ke instrumen reksa dana indeks dan exchange trade fund (ETF) hingga saat ini.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan pengaruh fluktuasi indeks tentunya berpengaruh langsung terhadap kinerja reksa dana indeks dan ETF.

“Banyak reksa dana indeks dan ETF saham mengacu ke indeks LQ45 dan IDX30. Jadi, karena tahun ini kinerja LQ45 turun sekitar 22 persen, ETF dan reksa dana indeks berbasis LQ45 juga turun dalam kisaran yang sama,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (20/10/2020).

Namun, ia menilai dari momentum waktu rebound terendah pada Maret lalu, kinerja reksa dana indeks LQ45 rebound sekitar 40 persen. Farash mencontohkan jumlah investor untuk reksa dana indeks IDX30 milik Avrist naik pesat menjadi 4.699 pada akhir September 2020 dari 1.072 pada akhir tahun lalu.

“[Jumlah investor reksa indeks IDX30 milik Avrist] naik 4 kali lipat tahun ini terutama investor individu. Paling tidak saya merasa minat investor individu masih sangat tinggi di reksa dana indeks,” sambungnya.

Hal ini menurutnya ditambah dengan kemudahan untuk berinvestasi melalui berbagai aplikasi online dari rekanan agen penjual reksa dana serta semakin sadarnya masyarakat untuk kebutuhan investasi untuk memenuhi kebutuhan jangka panjangnya.

Berdasarkan data Infovesta, reksa dana Avrist IDX30 memiliki nilai aktiva bersih Rp775,25 juta. Selama sebulan terakhir, imbal hasil dari produk ini mencapai 0,39 persen sementara dalam setahun terakhir imbal hasil yang didapatkan masih dalam posisi negatif 17,9 persen.

Di sisi lain, investor dianggap memanfaatkan valuasi harga saham yang sedang murah sehingga masa saat ini tetap digunakan untuk investasi secara bertahap untuk kebutuhan jangka panjang.

Untuk kebutuhan jangka menengah, investor juga disarankan untuk memilih ETF obligasi yang mana kinerjanya juga positif tercermin dari kinerja pasar obligasi yang juga apik pada tahun ini.

Adapun, Farash beranggapan momentum saat ini masih tepat bagi investor untuk mulai berinvestasi ke reksa dana indeks mengingat umumnya produk tersebut berisikan saham dengan fundamental dan likuiditas yang baik.

“Namun tetap perlu horison jangka panjang untuk saham agar kinerja yang didapat optimum,” sambungnya.

Melihat data historis, lanjutnya, untuk mendapatkan probabilitas kinerja portofolio saham yang positif menggunakan horizon waktu di atas 7 tahun dengan standar deviasi yang lebih rendah. Akan gtetapi, hal ini menurutnya juga bukan berarti kinerja saham tidak bisa mencatatkan pertumbuhan dalam jangka pendek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Obligasi reksa dana
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top