Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Kata Analis Soal Kinerja Emiten Telko di Paruh Kedua

Ada tren pertumbuhan lalu lintas (traffic) data akibat perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses internet selama pandemi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  19:52 WIB
salah satu menara telekomunikasi yang dikelola oleh PT Bali Towerindo Sentra Tbk. - balitower.co.id
salah satu menara telekomunikasi yang dikelola oleh PT Bali Towerindo Sentra Tbk. - balitower.co.id
Bisnis.com, JAKARTA — Analis meramalkan kinerja sektor telekomunikasi di paruh kedua tahun ini masih akan tahan terhadap goncangan pandemi. Meskipun demikian, ancaman perang harga tetap mengintai.
 
Analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengatakan pendapatan rata-rata per pengguna (average revenue per user/ARPU) emiten telekomunikasi di Indonesia bakal tetap bertumbuh di tahun ini meski tips.
 
Dia memproyeksikan tahun ini ARPU para operator akan tumbuh dalam kisaran 0,2 persen hingga 3 persen. Adapun, untuk 2021 mendatang, Lee memproyeksikan ARPU perusahaan telko dapat tumbuh jauh lebih pesat, yakni sekitar 6—12 persen.
 
“Ini didukung oleh potensi pertumbuhan lalu lintas (traffic) data yang terus menanjak akibat perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses internet selama pandemi,” katanya dalam publikasi riset.
 
Lebih lanjut dia memprediksi pola ini akan terus berlanjut meski pandemi telah berlalu. Lee mencontohkan bagaimana traffic data untuk layanan video games tetap menunjukkan grafik naik meski pembatasan sosial telah dilonggarkan.
 
“Secara keseluruhan, kami menilai amplifikasi penggunaan video chat, game, layanan streaming dan sejenisnya akan terus meningkatkan traffic data dan ujungnya akan menyokong pertumbuhan ARPU di 2021 nanti,” tuturnya.
 
Di sisi lain, tekanan bagi para operator telekomunikasi datang dari perang harga paket murah antar operator.
 
Sebagai ilustrasi, kendati mengalami peningkatan traffic data sepanjang Q2/2020 sebesar 13,10 persen QoQ menjadi 2.259.408 TB, yang juga merupakan peningkatan 39,12 persen YoY, yield data TLKM sebagai pemimpin pasar malah mengalami penurunan.
 
Tercatat, pada Q2/2020, yield data emiten pelat merah tersebut adalah Rp7.102/GB, penurunan 10,40 persen QoQ dan 179,70 persen YoY.
 
Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan hal tersebut disebabkan oleh perang harga yang hebat karena industri yang sangat terkonsentrasi. 
 
Meskipun demikian, dia menyebut peningkatan total traffic masih tetap melebihi penurunan yield data tersebut.
 
“Sehingga kami memperkirakan bahwa total pendapatan data TLKM di FY20 akan menjadi Rp104,33 triliun, atau meningkat 18 persen YoY,” tulisnya dalam riset.
 
Apalagi, tambahnya, TLKM berpotensi diuntungkan dari rencana pemerintah yang akan memberikan subsidi akses data gratis ke pembelajaran online. Dia mengasumsikan rencana itu dapat menambah pendapatan TLKM sebesar Rp1,70 triliun.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Emiten Telekomunikasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top