Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ancaman Badai di Teluk Meksiko, Produsen Minyak AS Bergegas Antisipasi

Beberapa kilang terbesar AS di Teluk Meksiko menurunkan kapasitas operasionalnya menyusul ramalan badai besar, Laura dan Marco, yang akan melanda wilayah tersebut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Agustus 2020  |  21:29 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Ancaman badai menyapu Teluk Meksiko, wilayah penghasil minyak mentah dan gas alam Amerika Serikat, membuat sejumlah produsen minyak yang beroperasi di wilayah tersebut bergegas menyelamatkan diri.

Mengutip Bloomberg, beberapa kilang terbesar AS di Teluk Meksiko menurunkan kapasitas operasionalnya, berpotensi menghentikan produksi hingga 1 juta barel per hari. Hal itu menyusul ramalan badai besar, Laura dan Marco, yang akan melanda wilayah tersebut, sehingga mengancam produksi minyak lepas pantai.

Ancaman badai ganda itu membuat 82 persen produksi minyak di Teluk Meksiko dihentikan sejak Senin (24/8/2020) siang waktu AS. Tidak hanya itu, ancaman itu juga menutup sekitar 57 persen produksi gas alam di wilayah itu.

Motiva Enterprises LLC, perusahaan produsen minyak asal AS, menutup kilang minyak berkapasitas 607.000 barel per hari dan pabrik kimia di Port Arthur, Texas.

Valero Energy Corp. juga menutup fasilitas Port Arthur berkapasitas 335.000 barel per hari, bahkan produsen ternama, Total SE, pun memotong produksi minyak mentah lebih dari 50 persen, sekitar 225.500 barel per hari di kilang wilayah itu.

Sementara itu, Exxon Mobil Corp. tengah mempersiapkan unit produksi untuk kemungkinan penutupan di kilang Beaumont berkapasitas 369.000 barel per hari, meskipun operasi hilirnya normal.

LyondellBasell Industries NV, yang memiliki kilang di Houston, juga tengah mencermati ancaman itu terhadap operasional penyulingannya dan telah mengamankan peralatan, serta memastikan pasokan minyak memadai. 

Adapun, Walikota Port Arthur Thurman Bartie berencana mengeluarkan evakuasi wajib ke kota. Pasalnya, jika badai itu, terutama Laura, berkembang menjadi badai kategori 3 akan menjadi badai Atlantik besar pertama tahun ini.

Di sisi lain, harga minyak berhasil menguat karena gangguan tersebut. Kekhawatiran pasar meningkat bahwa penutupan kilang utama di Teluk Meksiko akan mengurangi ketersediaan pasokan minyak.

Selain itu, badai tersebut dapat berdampak pada aliran energi global, seperti mengganggu aliran bensin dari Eropa ke AS. 

“Pasar saat ini sangat khawatir dengan kekurangan bensin, dan itu adalah konsekuensi serius dari badai tersebut,” kata Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (25/8/2020) hingga pukul 20.58 WIB, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Oktober 2020 di bursa ICE bergerak menguat 1,51 persen ke posisi US$45,81 per barel. 

Sementara itu, harga minyak berjangka jenis WTI di bursa Nymex untuk kontrak Oktober 2020 bergerak menguat 1,24 persen ke level US$43,15 per barel.

Tim Analis Monex Investindo Futures mengatakan bahwa harga minyak mentah bergerak variatif dan cenderung sideways karena pedagang mempertimbangkan dua sentimen penggerak harga yang bertolak belakang saling mempengaruhi pasar.

Pedagang mempertimbangkan pengurangan produksi besar-besaran di Pantai Teluk AS karena Badai Tropis Laura dan Marco yang dapat menjadi katalis positif harga, tetapi meningkatnya kasus virus corona di Asia dan Eropa telah menekan harga.

“Harga minyak berpotensi bergerak naik menguji level resisten di US$42,7 per barel. Kenaikan lebih tinggi dari level tersebut berpotensi menopang harga minyak menguji level resisten berikutnya di US$42,9 per barel dan US$43,2 per barel,” tulis Monex Investindo Futures seperti dikutip dari publikasi risetnya, Selasa (25/8/2020).

Namun, jika harga terus mengalami penurunan maka harga berpeluang menguji level support US$42,2 per barel dan penurunan lebih dalam dari level tersebut berpeluang menekan harga minyak menguji level support selanjutnya US$42 per barel dan US$41,85 per barel.

Senada, Ahli Strategi Komoditas TD Securites Bart Melek mengatakan bahwa tanda-tanda meningkatnya kasus di Eropa dan Asia masih membebani ekspektasi permintaan global dan membuat harga sulit menembus level US$42 per barel.

“Operasi kilang yang lemah, ekspor, dan permintaan distilasi terus menghambat pemulihan,” ujar Melek seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/8/2020).

Di sisi lain, Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp. di Singapura Howie Lee mengatakan bahwa potensi kehilangan pasokan di Teluk Meksiko adalah sekitar 2 persen dari produksi AS. Dengan demikian, ancaman penghentian produksi itu tidak menjadi katalis cukup kuat untuk menopang harga bergerak lebih tinggi lagi.

“Mungkin harga dalam beberapa perdagangan ke depan akan lebih didukung oleh berita vaksin atau permintaan bensin yang mulai pulih,” ujar Lee seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/8/2020).

Selain itu, Director of Finance and Fundamental Analysis RBN Energy David Braziel mengatakan bahwa dampak penghentian operasional kilang di pasar akan sangat bergantung pada jalur badai Laura dan faktor logistik lainnya seperti jangka waktu ketahanannya.

“Total persediaan telah naik di atas tertinggi 5 tahun untuk minyak mentah, distilat, dan bensin sehingga tampaknya tidak begitu banyak berpengaruh,” ujar Braziel seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/8/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top