Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tambah Produksi, Kapuas Prima (ZINC) Bangun Dua Smelter

ZINC tengah menggarap proyek smelter pemurnian di Pangkalan Bun yang ditargetkan beroperasi awal 2021 untuk smelter timbal dan pada awal 2022 untuk smelter seng.
Smelter timbal PT Kapuas Prima Coal Tbk./kapuasprima.co.id
Smelter timbal PT Kapuas Prima Coal Tbk./kapuasprima.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan logam, PT Kapuas Prima Coal Tbk., berkomitmen mengembangkan smelter timbal dan seng untuk menambah kapasitas produksi.

Direktur Kapuas Prima Coal Hendra Susanto Wiliam mengatakan perseroan terus berkomitmen untuk keberlanjutan usaha dalam pembangunan smelter timbal dan seng.

Hal ini guna memberi nilai tambah bagi produk-produk mineral perseroan, sekaligus mendukung program hilirisasi yang tengah dipacu oleh pemerintah.

Saat ini, ZINC tengah menggarap proyek smelter pemurnian di Pangkalan Bun yang ditargetkan beroperasi awal 2021 untuk smelter timbal dan pada awal 2022 untuk smelter seng.

Smelter konsentrat timbal tersebut nantinya akan memproduksi maksimal 40.000 ton konsentrat per tahun untuk memproduksi 20.000 ton metal timbal per tahun, sedangkan smelter seng akan memiliki kapasitas produksi 30.000 ton ingot per tahun.

Untuk mendukung target tersebut, ZINC juga telah menandatangani Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) dengan PLN sebesar 2,5 MW pada medio Agustus untuk menjamin pengoperasian smelter timbal.

“Sementara itu, untuk smelter seng dengan daya sebesar 35 MW masih dalam pembahasan tahap berikutnya dengan pihak PLN,” papar Hendra dalam keterangan resmi, Selasa (25/8/2020).

Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga berdampak terhadap kinerja keuangan perseroan pada semester I/2020 yang tidak begitu impresif.

ZINC mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 30,3 persen menjadi sebesar Rp301,4 miliar dibandingkan dengan Rp432,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp41,9 miliar.

Hendra menjelaskan penurunan kinerja itu disebabkan oleh menurunnya harga komoditas terkait dan terbatasnya penjualan yang dilakukan menyusul kebijakan lockdown yang dilakukan di hampir seluruh dunia.

“Oleh karena itu, untuk membantu perbaikan kinerja perseroan, kami juga berusaha melakukan efisiensi dengan mengurangi berbagai pengeluaran dan beban,” ujar Hendra.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper