Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Tunjukan Sinyal Melemah, Harga CPO Tergelincir

Cadangan minyak sawit di India sebagai salah satu importir CPO terbesar di dunia, hanya mencatatkan penurunan sekitar 23 persen dari tahun sebelumnya, sdangkan pembelian minyak sawit oleh China juga melambat.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 24 Agustus 2020  |  16:51 WIB
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg
Pekerja memindahkan tandan buah segar sawit. - Sanjit Das/Bloomberg

Bisnis.com,  JAKARTA – Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) melanjutkan pelemahan, tergelincir ke zona merah untuk hari perdagangan kedua di tengah kekhawatiran pasar terkait melemahnya permintaan dan pertumbuhan cadangan CPO di India.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (24/8/2020) hingga pukul 14.09 WIB harga CPO berjangka kontrak November 2020 di bursa Malaysia bergerak melemah 0,52 persen ke level 2.661 ringgit per ton. Pada pertengahan perdagangan, harga CPO sempat terkoreksi hingga 1,64 persen ke level 2.648 ringgit per ton.

Adapun, harga CPO melanjutkan pelemahan dari perdagangan sebelumnya yang terkoreksi 2,05 persen ke level 2.681 ringgit per ton pada Jumat (21/8/2020).

Sathia Varqa, founder Palm Oil Analytics Singapura, mengatakan bahwa cadangan minyak sawit di India sebagai salah satu importir CPO terbesar di dunia, hanya mencatatkan penurunan sekitar 23 persen dari tahun sebelumnya pada Agustus berjalan saat ini.

Hal itu telah membaik sejak Mei lalu ketika stok CPO Negeri Taj Mahal itu turun lebih dari 60 persen.

“Pembelian India sudah mulai kuat pada Juni dan Juli yang seharusnya menjadi sentimen positif harga, tetapi tampaknya India tidak terburu-buru untuk meningkatkan pembelian yang menambahkan kekhawatiran pasar saat ini,” ujar Varqa seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (24/8/2020).

Sementara itu, Varqa menjelaskan bahwa pembelian minyak sawit oleh China sebagai konsumen CPO tradisional lainnya juga telah melambat.

Dua hal utama itu pun membuat pasar semakin cemas bahwa ekspor keseluruhan dari Malaysia untuk periode Agustus akan semakin buruk sehingga memberikan tekanan pada harga yang sudah mulai membaik.

Berdasarkan data surveyor kargo AmSpec Agri, pengiriman CPO Malaysia untuk periode 1-20 Agustus 2020 anjlok 21 persen ke posisi 925.083 ton dari posisi ekspor 1-20 Juli 2020 sebesar 1.170.709 ton.

Selain itu, data Intertek Testing Services juga menunjukkan bahwa ekspor CPO Malaysia turun 18,2 persen month to month selama periode tersebut.

“Harga fisik untuk minyak goreng sawit olein juga menurun, menunjukkan bahwa permintaan semakin lemah,” papar Varqa.

Untuk diketahui, sejak menyentuh level terendahnya pada awal Mei 2020, harga CPO telah merangkak naik sekitar 33,28 persen. Harga CPO saat ini pun semakin dekat dengan level perdagangannya pada awal tahun ini di 2.780 ringgit per ton.

Adapun, sepanjang tahun berjalan 2020, harga CPO masih bergerak melemah 8,09 persen.

Sementara itu, Thailand mungkin akan berupaya mengekspor 300.000 ton minyak sawit berlebihnya pada Maret. Pemerintah Thailand menjelaskan bahwa ekspor itu dilakukan untuk membantu mengurangi stok minyak sawit di dalam negeri yang melimpah dan menstabilkan harga domestik.

Negeri Gajah Putih itu memperkirakan output minyak sawit pada paruh kedua tahun ini kemungkinan akan naik hingga 11,81 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Proyeksi penambahan pasokan ke pasar itu pun akan menambahkan kekhawatiran pasar terhadap kelebihan pasokan, apalagi ketika proyeksi permintaan masih dalam tekanan sehingga dapat mengganggu laju bullish CPO yang telah terbentuk dalam tiga bulan terakhir.

Di sisi lain, Kepala Strategi Perdagangan dan Lindung Nilai Kaleesuwari Intercontinental Gnanasekar Thiagarajan mengatakan bahwa kendati harga dalam tekanan, prospek pasar CPO untuk jangka menengah masih positif.

“Kami masih mengekspektasikan adanya reli kenaikan yang kuat untuk harga CPO, kami menargetkan 2.895 ringgit per ton pada awalnya, mungkin akan lebih tinggi ke level 3.010 ringgit per ton dalam beberapa bulan mendatang, karena pola head and shoulders terbalik bullish sedang dibuat,” ujar Thiagarajan seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (24/8/2020).

Senada, Strategist Eastport Maritime Singapura Andrew Shipley dalam risetnya mengatakan bahwa harga berpotensi menguat di tengah sentimen persediaan minyak sawit di Indonesia yang diperkirakan akan turun ke level terendah dalam 16 bulan sebesar 3 juta ton  pada akhir Juli.

Penurunan itu disebabkan oleh banjir di Kalimantan dan Sumatera yang telah mengganggu panen tandan buah segar.

Selain itu, konsumsi domestik yang sedikit lebih tinggi di bulan Juli untuk program pencampuran biodiesel B30 yang sedang berlangsung mungkin juga berkontribusi pada penurunan stok.

“Turunnya persediaan dapat terus meningkatkan harga minyak sawit, yang telah meningkat hampir 20 persen sejak akhir Juni,” ujar Shipley dalam publikasi risetnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, Manajer Phillip Futures Marcello Cultrera mengatakan bahwa pasar minyak sawit akan mengalami tekanan dari sisi pasokan sepanjang paruh kedua tahun ini yang membuat harga dapat bertahan di jalur kenaikannya.

Kendati Malaysia sudah memasuki musim puncak panen, produksi negara itu diprediksi turun 5 persen dari bulan sebelumnya menjadi 1,79 juta ton pada Juli 2020. Kinerja itu pun akan menjadi penurunan kedua kalinya dalam tahun ini setelah penurunan marjinal pada Mei lalu.

"Selain kekurangan tenaga kerja, badai hujan baru-baru ini di Malaysia Timur telah mengurangi panen tandan buah segar,” ujar Cultrera seperti dikutip dari Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo malaysia thailand harga cpo
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top