Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Nikel Mulai Pulih, Vale (INCO) Tetap Bidik Efisiensi US$30-US$50 juta

Kendati harga nikel sudah mulai pulih, Vale menilai permintaan dan pasokan masih menghadapi risiko perlambatan. Oleh karena itu, efisiensi dan kehandalan operasi menjadi strategi untuk menjaga kinerja di tengah kondisi tersbeut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  16:27 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan logam, PT Vale Indonesia Tbk., akan tetap melanjutkan inisiatif efisiensi dan penghematan biaya pada tahun ini kendati harga nikel sudah mulai pulih dari tren pelemahan pada awal tahun

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan efisiensi dan operational excellence merupakan kunci agar kinerja tetap bertumbuh di tengah harga komoditas yang berfluktuasi.

Dia mengungkapkan, kendati harga nikel sudah mulai pulih, permintaan dan pasokan masih menghadapi risiko perlambatan. Dia menggambarkan, ketersediaan stainless steel China masih cukup tinggi di samping permintaan dari sektor kendaraan listrik juga melambat.

“Kami harus melihat kembali dalam tiga bulan ke depan perkembangan Covid-19, baik dari sisi produsen dan konsumen yang akan mempengaruhi keseimbangan demand-supply
di pasar nikel,” ujar Irmanto pada saat public expose virtual, Rabu (29/7/2020).

Dia menargetkan untuk melakukan penghematan biaya hingga US$30-US$50 juta pada tahun ini dengan beberapa inisiatif baru maupun yang sudah dilakukan sejak 2018.

Adapun, inisiatif terbaru yang dilakukan tahun ini adalah Obeya, inisiatif disruptif yang bertujuan untuk mencari peluang improvement dengan menantang status quo.

Emiten berkode saham INCO itu juga mengimplementasikan Vale Production System, sebuah model manajemen untuk mengikutsertakan karyawan di semua level untuk melakukan perbaikan secara terus menerus guna mencapai keunggulan operasi, termasuk mengurangi waste.

Sepanjang paruh pertama 2020, INCO telah berhasil menekan biaya produksi hingga menjadi di bawah US$7.000 per ton, jauh lebih rendah daripada biaya produksi per unit periode yang sama tahun lalu. Untuk diketahui, realisasi biaya produksi per unit INCO sepanjang 2019 sebesar US$7.500 per ton.

Irmanto menjelaskan bahwa penurunan biaya produksi itu dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dan komoditas lain. Selain itu, pencapaian target produksi dan juga inisiatif penghematan biaya juga memiliki kontribusi terhadap penurunan itu.

Di sisi lain, Irmanto juga berharap harga nikel saat ini dapat bertahan hingga akhir tahun sehingga dapat mendukung kinerja keuangan perseroan secara keseluruhan menjadi lebih baik.

Untuk diketahui, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (28/7/2020) harga nikel di bursa London berada di level US$13.660 per ton. Harga nikel, sudah mulai pulih dari harga terendahnya pada medio Maret di level US$10.880 per ton.

Adapun, pada kuartal pertama tahun ini INCO berhasil mencatatkan penjualan sebesar US$174,7 juta naik 38,21 persen dari posisi kuartal I/2019 US$126,4 juta. Selain itu, perseroan juga berhasil membalikkan posisi rugi bersih pada kuartal I/2019 sebesar US$20,2 juta, menjadi laba bersih sebesar US$29 juta pada kuartal I/2020.

Hingga Juni 2020, INCO telah memproduksi nikel dalam matte sebesar 36.315 ton, naik 18 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 30.711 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel Kinerja Emiten vale indonesia tbk
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top