Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Emas Anjlok Sehabis Jebol US$2.000

Kilau harga emas seketika luntur setelah menyentuh level psikologis baru US$2.000 per troy ounce, untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Tumpukan emas batangan./Bloomberg
Tumpukan emas batangan./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kilau harga emas seketika luntur setelah menyentuh level psikologis baru US$2.000 per troy ounce, untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas Comex kontrak Desember 2020 merosot 18,50 poin atau 0,95 persen ke level US$1.936,90 per troy ounce pada perdagangan Selasa (28/7/2020) pukul 15.01 siang WIB, setelah bergerak fluktuatif dalam rentang level 1.927,50 – 2.000 per troy ounce.

“Ini adalah yang tertinggi dari level tertinggi dan di setiap zona waktu para pedagang telah berusaha mendorongnya lebih tinggi dan lebih tinggi,” ujar managing director GoldSilver Central Pte. Brian Lan, dikutip dari Bloomberg.

“[Emas] mencoba mencoba beberapa kali dan karenanya ada koreksi. Jadi mungkin telah terjadi aksi ambil untung,” tambahnya.

Di samping aksi ambil untung pedagang, pergerakan emas juga dipengaruhi rebound dolar AS. Indeks dolar AS terpantau menguat 0,30 persen atau 0,283 poin ke posisi 93,951.

Meski ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Covid-19 dan ekspektasi stimulus dari otoritas negara-negara di dunia tidak tampak berujung, investor bisa jadi sedang menantikan lebih banyak sinyal bullish sebelum mendorong harga emas lebih tinggi.

Sejalan dengan emas, harga perak di pasar spot dilaporkan menyusut 2 persen dan diperdagangkan naik 0,7 persen ke level US$24,7518 per ounce, setelah sempat melonjak lebih dari 6 persen.

Kendati harga logam mulia tersebut goyah, sebagian besar pengamat pasar memprediksi kenaikan lebih lanjut untuk emas dan perak.

Ada daftar panjang faktor bullish yang mendukung pasar antara lain pelemahan dolar AS, eskalasi ketegangan geopolitik, suku bunga riil yang lebih rendah, serta langkah-langkah stimulus pemerintah dan bank sentral negara-negara untuk menyokong perekonomian.

“Penurunan nilai dolar AS, kurs riil yang lebih negatif, juga masih adanya ketidakpastian kondisi geopolitik dan hubungan AS-China. Kombinasi hal-hal itulah yang akan mendorong emas lebih keras,” tutur Direktur eksekutif komoditas dan valuta asing di UBS Group AG Wayne Gordon.

Pasar dipastikan tengah menantikan rapat kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve AS yang digelar pada 28-29 Juli waktu setempat, guna memperoleh petunjuk lebih lanjut.

Ada ekspektasi bahwa kemunduran dalam pergulatan global melawan Covid-19 akan mendorong Gubernur The Fed Jerome Powell untuk memberi sinyal bahwa suku bunga acuan akan tetap di kisaran nol lebih lama.

“Pesan dari pertemuan The Fed diperkirakan akan dovish, menegaskan kembali perlunya lebih banyak langkah-langkah fiskal, yang kemungkinan akan mendukung emas,” kata general manager di ABC Bullion Nicholas Frappell.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper