Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ketegangan AS-China Bikin Wall Street Kembali Tergelincir

Aksi saling balas antara Amerika Serikat dan China soa penutupan konsutan jenderal memicu kalangan pelaku pasar melakukan aksi jual sehingga Wall Street menyudahi akhir pekan dengan koreksi hampir 1 persen.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 25 Juli 2020  |  05:55 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat kembali ditutup melemah dalam dua hari beruntun  menyusul ketegangan antara AS dengan China yang menutup konsulat jenderal di beberapa kota. Wall Street juga kembali rontok karena investor khawatir pemulihan perekonomian bakal terhambat seiring dengan dinamika politik yang berkembang. 

Dilansir dari Bloomberg, indeks S&P 500 menyudahi akhir pekan dengan koreksi sedangkan Nasdaq mencetak penurunan back to back pertama dalam 49 hari. Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,62 persen ke level 3.215,63 sedangkan Nasdaq Composite turun hampir 1 persen ke posisi 10.363,18.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,68 persen menjadi 26.468,89. Dalam sebulan terakhir, indeks Dow Jones mencetak kenaikan 5,81 persen.

Saham Intel Corp jatuh menyusul pengumuman penundaan produksi sedangkan saham pembuat chip lainnya, Advanced Micro Devices Inc mengalami kenaikan. 

Sementara itu saham Verizon Communications Inc naik setelah kinerja penjualan melampaui estimasi. Kenaikan saham Verizon membendung penurunan indeks Dow Jones lebih dalam seiring kejatuhan saham Intel.

Kinerja Wall Street yang tergelincir tidak terlepas dari ketegangan antara AS dengan China. Negeri Panda itu membalas tindakan AS dengan menutup konsulat di Chengdu. Sebelumnya AS menutup konsulat jenderal China di Houston.

Kedua negara adikuasa ini memang doyan mencari keributan. Sebelumnya mereka melancarkan perang urat syaraf terkait penanganan virus corona dan hubungan dagang. Pelaku pasar khawatir, ketegangan tersebut bakal memicu konflik yang berkepanjangan.

"Kami tidak terkejut bila ada aksi jual karena investor khawatir terhadap ketegangan geopolitik," ujar Direktur Investasi Brewin Dolphin Janet Mui seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (25/7/2020).

Wall Street tidak hanya tertekan karena ketegangan AS-China. Pelaku pasar juga khawatir pemulihan perekonomian tidak berjalan seperti yang diharapkan. Data klaim pengangguran pada kamis meningkat sejak Maret. Hal ini tetap menjadi kekhawatiran kendati data perumahan menguat.

Berikut indikator utama pasar keuangan dunia

Saham

  • Indeks S&P 500 turun 0,6 persen, terendah lebih dari seminggu.
  • Dow Jones Industrial Average turun 0,7 persen
  • Nasdaq Composite turun 0,9 persen, terendah hampir tiga minggu.
  • Indeks Stoxx Europe 600 turun 1,7 persen, terendah dalam lebih dari seminggu 

Mata uang

  • Indeks Spot Dollar Bloomberg turun 0,6 persen, terendah dalam lebih dari enam bulan.
  • Euro naik 0,4 persen menjadi $1,1643, terkuat dalam 22 bulan 
  • Yen Jepang menguat 0,8 persen 105,97 per dolar, terkuat dalam hampir 19 minggu

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi AS tenor 10 naik tipis menjadi 0,58 persen.
  • Imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun naik tiga basis poin menjadi -0,45 persen
  • Imbal hasil obligasi Inggris tenor 10 tahun meningkat dua basis poin menjadi 0,144 persen.

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate naik 0,3 persen menjadi $ 41,21 per barel.
  • Emas berjangka menguat 0,5 persen menjadi $1.899,6 per ounce,.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china bursa as amerika serikat

Sumber : Bloomberg

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top