Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rebalancing Portofolio, BNI AM Pilih Instrumen Ini

Manajer investasi pelat merah PT BNI Asset Management (BNI AM) mulai melakukan kocok ulang portofolio. Surat utang negara dan saham berkapitalisasi menengah hingga besar jadi andalan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  19:42 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Manajer investasi pelat merah PT BNI Asset Management (BNI AM) mulai melakukan kocok ulang portofolio. Surat utang negara dan saham berkapitalisasi menengah hingga besar jadi andalan.

Direktur Utama BNI AM Reita Fahrianti mengatakan perkembangan pasar modal yang sangat volatil belakangan ini ditambah adanya sentimen penekan dari pandemic Covid-19 membuat pihaknya harus melakukan rebalancing portofolio.

Secara valuasi harga efek-efek yang beredar, Reita menilai saat ini harga sudah relatif murah dan sangat menarik. Akan tetapi di saat yang sama risiko volatilitas pasar masih tinggi.

“Faktor risiko seperti penurunan kondisi ekonomi dan bisnis serta kekhawatiran akan second wave dari penyebaran virus tentunya masih mendorong volatilitas investasi,” tuturnya kepada Bisnis, pekan lalu.

Maka dari itu, tambahnya, BNI AM bersikap lebih defensif dengan memilih saham-saham dengan kapitalisasi pasar sedang hingga jumbo, dengan kualitas dan fundamental yang baik serta memiliki daya tahan terhadap siklus ekonomi yang sedang turun seperti saat ini.

Dia menyebut beberapa sektor yang menjadi andalan BNI AM, antara lain sektor barang konsumsi, telekomunikasi termasuk menara atau infrastuktur telekomunikasi, utilitas, serta farmasi.

“Sementara [untuk instrumen berbasi obligasi] SUN dengan series pemilihan berdasarkan current yield dan taktikal pada durasi menengah ke panjang untuk menangkap potensi kenaikan harga obligasi,” tutur Reita.

Menurutnya, dalam mengelola aset BNI AM menyusun strategi berdasarkan ekspektasi pasar dalam jangka waktu 6—12 bulan ke depan serta kebijakan investasi yang spesifik dari tiap jenis reksa dana yang mereka kelola.

“Selain itu, kami juga terus melakukan pemantauan kondisi makro ekonomi dan pergerakan pasar modal secara periodik untuk menyesuaikan porsi atau alokasi aset yang bersifat taktikal dan dinamis dalam jangka pendek,” ujar Reita.

Dia mengaku masih optimistis pasar akan kembali positif. Reita memperkirakan kinerja reksa dana saham bakal mengalami perbaikan menuju akhir tahun 2020, dengan kisaran level IHSG pada range level 4800 - 5400 atau upside sekitar 6 persen – 19 persen dari level IHSG saat ini sebesar 4500.

Reita menilai hal tersebut didorong sentimen positif dari melambatnya jumlah penambahan kasus baru Covid-19 dan kembali dibukanya aktivitas ekonomi di berbagai negara termasuk di Indonesia serta stimulus moneter dan stimulus fiskal yang dikeluarkan pemerintah.

“Walaupun kami masih terus mengamati risiko-risiko seperti data ekonomi yang masih memburuk dan risiko second wave dari penyebaran virus Covid-19 ini setelah lockdown kembali dibuka dibeberapa negara,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manajer investasi saham emiten investasi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top