Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Meski Terdampak Corona, Begini Prospek Saham Grup Sinarmas

Pandemi virus corona seharusnya bukan menjadi hambatan bagi grup konglomerasi, termasuk Grup Sinarmas
Karyawati melayani nasabah, di kantor PT Asuransi Sinar Mas, Jakarta, Selasa (6/11/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Karyawati melayani nasabah, di kantor PT Asuransi Sinar Mas, Jakarta, Selasa (6/11/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA— Saham grup konglomerasi Sinarmas selama empat bulan pada 2020 cukup aktif melakukan aksi korporasi. Simak uraiannya.

Grup Sinarmas yang memiliki 11 emiten di bidang berbeda ternyata tak semuanya kebal terhadap virus corona. Gurita bisnis keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja itu juga terbawa gelombang pandemi virus corona.

PT Golden Energy Mines Tbk. (GEMS) terparkir di level Rp2.550 karena perdagangan sahamnya masih dihentikan sementara. Sisanya, tak kebal dari koreksi.

Koreksi harga paling minim terjadi pada saham PT Duta Pertiwi Tbk. (DUTI) yakni sebesar 5,2 persen namun sahamnya kurang likuid karena porsi publik hanya sebesar 11 persen. PT Bank Sinarmas Tbk. (BSIM) dan PT Sinarmas Multi Artha Tbk. (SMMA) terkoreksi 18,63 persen dan 19,87 persen.

Adapun, dari 11 emiten tersebut, hanya PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) yang masih mencatatkan pertumbuhan harga saham selama tahun berjalan.

Dari sisi aksi korporasi, DSSA emiten grup Sinarmas yang mengurus bisnis energi dan infrastruktur belum lama ini menambah kepelimikan sahamnya pada perusahaan penambang batu bara Australia.

Golden Energy dan Resources Limited (GEAR), anak usaha DSSA, melalui entitasnya Golden Investments (Australia) Pte. Ltd. atau GI, telah melakukan penambahan saham di Stanmore sebanyak 6.048.027 saham.

Harga pelaksanaan 0,1 dolar Australia per saham. Dengan demikian, total transaksi mencapai 604.802,7 dolar Australia, atau setara dengan Rp5,85 miliar. Dengan demikian, kepemilikan GI di Stanmore saat ini menjadi 75,33 persen,

Sebelumnya, perusahaan pun pernah menutup unit bisnis yang berada di Hong Kong. One Global Power Limited berada di bawah PT DSSE Energi Mas Utama. Perusahaan itu menjalankan lini bisnis penyediaan tenaga listrik dan bisnis pendukungnya.

One Global Power Limited dijelaskan sebagai entitas anak tidak langsung yang memiliki kegiatan usaha penyertaan saham dan berlokasi di Hong Kong. Laporan Tahunan 2018 menyebutkan persentase kepemilikan sebesar 99,999 persen dengan status tidak beroperasi.

TERUS BERLANJUT

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan secara umum kegiatan akuisisi dan merger akan tetap berjalan. Namun, dia menyebut ketangguhan perusahaan bermodal jumbo akan menentukan.

Adapun, pada kuartal I/2020, tren akuisisi dan merger belum terlihat karena dampak pandemi virus corona masih minim. Menurutnya, kuartal II/2020 akan menjadi momen saat perusahaan yang tak mampu bertahan untuk melihat opsi penjualan aset hingga konsolidasi. Di sisi lain, perusahaan bermodal jumbo sudah melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dan penyesuaian visi jangka panjangnya.

“Di kuartal II/2020 baru kelihatan perusahaan-perusahaan yang butuh uang,” katanya.

Sementara itu, Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menilai grup konglomerasi masih bisa bertahan di tengah tekanan bila didukung oleh kemampuan modal yang mumpuni. Aspek kesehatan bisnis seperti utang jatuh tempo dan ketahanannya terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun menjadi indikator yang menjadi ukuran daya tahan.

Selain itu, dia menilai diversifikasi usaha turut berpengaruh terhadap daya tahan konglomerasi terhadapi kondisi pandemi.

“Usaha yang beragam pada sektor yang tidak terdampak langsung virus corona bisa menjadi tumpuan,” katanya.

bsde

Ilustrasi properti milik PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE). (Jibiphoto)

Terlepas dari itu, Head of Research FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi mengatakan menjadi emiten grup konglomerasi bukan jaminan bakal mengalami penguatan. Pasalnya, terdapat perbedaan antara emiten berfundamental bagus dan emiten berkinerja saham bagus.

Wisnu mengatakan PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.(INKP) adalah 2 dari 11 emiten yang menarik untuk dicermati. Menurutnya, dengan valuasi Rp855 per saham, BSDE menarik untuk dikoleksi.

Pasalnya, emiten yang bergerak di bidang properti paling berpeluang untuk tumbuh secara fundamental. Adapun koleksi harus dilakukan secara dicicil karena masih berpeluang terdiskon. Selain itu, INKP juga menarik karena pernah mencapai level tertinggi Rp20.000 per saham.

Wisnu mengatakan dengan tren penurunan saat ini, justru waktu yang tepat untuk melakukan cicil beli. Menurutnya, terdapat peluang untuk rebound setelah virus corona tertangani.

“BSDE ini menarik karena sudah murah meskipun properti belum menggeliat lagi. INKP pun sudah murah karena diperdagangkan di level Rp4.900,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Premium Content grup sinarmas Virus Corona
Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top