Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sektor Hotel Terdampak Corona, Surya Internusa (SSIA) Rugi Rp17 Miliar

Pendapatan hotel Surya Semesta Internusa turun 15,1 persen menjadi Rp142,9 miliar pada kuartal I/2020.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 Mei 2020  |  16:29 WIB
Gran Melia Jakarta -
Gran Melia Jakarta -

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja operasional PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) terhuyung seiring penurunan kinerja di sektor perhotelan, salah satu lini usaha perseroan. Tingkat okupansi hotel perseroan mengalami penurunan signifikan akibat dampak penyebaran virus corona (Covid-19).

Per Maret 2020, Surya Internusa membukukan pertumbuhan pendapatan 7,08 persen menjadi Rp882,04 miliar. Walau pendapatan tumbuh, emiten bersandi saham SSIA itu menderita kerugian bersih sebanyak Rp17,41 miliar.

Presiden Direktur Surya Semesta Internusa Johannes Suriadjaja mengatakan penurunan kinerja perseroan disebabkan gangguan pada lini usaha perhotelan. Sebagaimana diketahui perseroan tengah menghentikan operasi Gran Melia di Jakarta.

“Turunnya kinerja perhotelan dan kenaikan pembayaran bunga berpengaruh,” katanya kepada Bisnis Jumat (15/5).

Berdasarkan data perseroan unit bisnis perhotelan SSIA membukukan pendapatan sebesar Rp142,9 miliar kuartal I/2020,  turun 15,1 persen dibandingkan dengan kuartal pertama  tahun lalu Rp168,2 miliar. 

Sekitar 69,8 persen persen dari total pendapatan perhotelan dihasilkan oleh Gran Melia Jakarta (GMJ) dan Melia Bali Hotel (MBH).

Tingkat hunian GMJ untuk kuartal I/2020 berada di 22,7 persen dari 43,8 persen di kuartal I/2019. Adapun tarif kamar rata-rata untuk kuartal pertama 2020 adalah sekitar US$95,8, naik dari posisi tahun lalu sebesar US$89,6. 

Sementara tingkat hunian MBH di kuartal I/2020 di 58,9 persen menurun dari 69,1 persen. Namun, MBH berhasil meningkatkan rara-rata pendapatan per kamar menjadi US$113,1 di kuartal I/2020 dari US$105,2 di kuartal I/2019.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Yasmin Soulisa menilai dengan kondisi saat ini dia telah mengubah target harga dari Rp920 per saham menjadi Rp400 per saham.

“Kami menurunkan asumsi kami untuk bisnis konstruksi dan penjualan tanah pada 2020 dan 2021 karena dampak Covid-19 mulai berlaku. Pendapatan 2020 dan 2021 antara Rp3,82 triliun dan Rp4,08 triliun,” katanya.

Dengan begitu, proyeksi laba bersih juga ikut turun 11,7 persen menjadi Rp41 miliar pada 2020 dan minus 10,2 persen menjadi Rp81 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten perhotelan Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top