Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Erick Thohir Singgung Mafia Alkes, Ini Penjelasan Kementerian BUMN

Menteri BUMN Erick Thohir melihat ada pihak-pihak yang membuat orang-orang terlalu sibuk berdagang tanpa memikirkan membangun kemandirian industri alat kesehatan (alkes) dalam negeri.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 18 April 2020  |  01:00 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (dari kiri) didampingi Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wiroatmojo dan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). - Bisnis/Arief Hermawan P
Menteri BUMN Erick Thohir (dari kiri) didampingi Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wiroatmojo dan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Senin (2/12/2019). - Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian BUMN menjelaskan lebih lanjut mengenai mafia pengadaan alat kesehatan dan bahan bakunya di Indonesia, seperti yang disinggung oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Para mafia itu disebut tidak memikirkan kemandirian industri nasional.

Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan Erick Thohir melihat para mafia ini membuat orang-orang terlalu sibuk berdagang tanpa memikirkan membangun kemandirian industri alat kesehatan (alkes) dalam negeri. Dia melanjutkan upaya memberantas para mafia itu sejalan dengan permintaan Presiden Joko Widodo dan dilakukan dengan membangun industri farmasi dalam negeri.

Dalam keterangannya, seperti dilansir Tempo pada Jumat (17/4/2020), Arya mengungkapkan impor alkes Indonesia mencapai 90 persen dari kebutuhan dalam negeri. Demikian juga dengan bahan baku obat-obatan, yang banyak diimpor dari India.

Hal ini, sambungnya, dilihat Erick Thohir sebagai suatu ancaman bagi Indonesia ketika terjadi situasi darurat. 

"Makanya Pak Jokowi memerintahkan Pak Erick untuk mempercepat proses penanganan masalah kesehatan, farmasi tepatnya," ucap Arya.

Oleh karena itu, Menteri BUMN menginisiasi pembentukan subholding farmasi yang terdiri atas PT Bio Farma (Persero), PT Indofarma (Persero) Tbk., dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. guna mengatasi permasalahan tersebut.

Pandemi Covid-19 pun langsung menguji subholding farmasi tersebut, dengan peningkatan kebutuhan alkes yang sebelumnya kurang disadari masyarakat. Indonesia disebut hanya berperan sebagai tukang jahit bagi Alat Pelindung Diri (APD), masker medis, dan ventilator, karena bahan bakunya didatangkan dari luar negeri.

Hal ini ditindaklanjuti Kementerian BUMN dengan mengumpulkan perguruan tinggi, industri otomotif, serta lembaga penelitian dan pengembangan lainnya untuk membantu produksi.

"Nah, ternyata dalam tempo sebulan itu teman-teman UI [Universitas Indonesia] dan ITB [Institut Teknologi Bandung] bisa membuat ventilator, meski ventilatornya bukan buat yang masuk ICU, tapi ventilator tahap awal. Artinya, mampu bangsa kita sebenarnya membuat," sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alat kesehatan BUMN

Sumber : Tempo

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top