Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Krisis Pasar Diragukan Berakhir, Bursa AS Terguling ke Zona Merah

Investor mempertanyakan apakah stimulus dari banyak negara dan bank-bank sentral di dunia dapat mengimbangi upaya penghematan lebih lanjut dari banyak perusahaan dan konsumen di tengah pandemi corona.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 31 Maret 2020  |  22:18 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. -  Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat terguling ke zona merah dan melemah pada awal perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2020), saat investor memperdebatkan soal akhir krisis pasar di tengah berlanjutnya penyebaran virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 terkoreksi 0,58 persen atau 15,30 poin ke level 2.611,35 pada pukul 20.44 WIB atau 9.44 pagi waktu New York.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average melorot 0,80 persen ke posisi 22.148,71 dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,48 persen ke level 7.737,09.

Pada perdagangan Senin (30/3/2020), indeks S&P 500 mampu berakhir melonjak 3,35 persen ke level 2.626,65, dengan saham emiten perawatan kesehatan berada di antara yang membukukan kenaikan terbesar.

Namun, indeks saham acuan AS telah turun lebih dari 18 persen sepanjang tahun ini ketika langkah-langkah untuk memerangi pandemi corona menutup sebagian besar aktivitas perekonomian.

Meski pengeluaran pemerintah dan stimulus moneter mampu mengangkat indeks saham dari kemerosotan yang mencapai 33 persen, pukulannya terhadap PDB (produk domestik bruto) menjadi monumental.

Goldman Sachs kini memperkirakan kontraksi 34 persen pada kuartal kedua sebelum mengalami rebound tajam.

Pada Selasa, investor mencermati tanda-tanda bahwa Kongres AS dapat memberikan putaran keempat stimulus saat virus corona menyebar lebih luas di Negeri Paman Sam ini.

Kendati demikian, investor juga mempertanyakan apakah stimulus luar biasa oleh banyak negara dan bank-bank sentral di dunia dapat mengimbangi upaya penghematan lebih lanjut dari banyak perusahaan dan konsumen di tengah pandemi corona.

New York City, yang muncul sebagai pusat pandemi baru virus mematikan tersebut, melaporkan peningkatan angka kematian sebesar 16 persen dalam enam jam.

Di sisi lain, Italia dan Belanda sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang lockdown. Selain itu, Spanyol mencatat 849 korban jiwa, angka kematian terbesar dalam satu hari untuk Negeri Matador.

“Kita tidak tahu berapa lama lockdown ataupun stasis ekonomi dunia akan terjadi,” ujar Toby Lawson, kepala pasar global di Societe Generale Securities Australia kepada Bloomberg TV.

“Akan terlalu dini untuk mengatakan bahwa kita telah melihat titik terbawah (bottom),” tambahnya.

Pada Selasa (31/3), Biro Statistik Nasional (NBS) China merilis Purchasing Managers’ Index (PMI) naik ke angka 52,0 pada Maret 2020 dari rekor terendah 35,7 pada Februari. PMI di atas 50 mengindikasikan perbaikan kondisi.

Meski peningkatan aktivitas manufaktur mengindikasikan sentimen yang lebih baik di pabrik-pabrik China, output tetap jauh dari normal. China diperkirakan masih akan mengalami kontraksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kuartal ini.

Adapun prospek untuk periode April-Juni tergantung pada seberapa cepat permintaan domestik dapat pulih dan kekuatan permintaan dari pasar luar negeri seperti AS yang masih bergelut dengan lonjakan jumlah kasus corona.

"Angka di atas 50 tidak berarti kegiatan ekonomi sepenuhnya dilanjutkan. Kita perlu sepenuhnya memahami penghematan dan kerumitan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan harus memberi perhatian besar atas guncangan virus terhadap produksi dan permintaan," kata Zhang Liqun, seorang peneliti di Pusat Informasi Logistik China.

Berbanding terbalik dengan bursa AS, indeks Stoxx 600 Eropa menanjak 1 persen, sedangkan indeks MSCI Asia Pacific turun 0,3 persen. Sementara itu, Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,3 persen dan imbal hasil Treasury 10 tahun turun 3 basis poin menjadi 0,70 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street covid-19
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top